Pengambilan Air Suci: Inti Spiritual Perayaan Waisak 31 Mei 2026

Purworejo,http://radarreclasseering.com –Disari dari berbagai sumber, puncak peringatan Tri Suci Waisak 2570 BE yang jatuh pada 31 Mei 2026, umat Buddha di seluruh Indonesia kembali melaksanakan salah satu rangkaian ritual paling sakral: pengambilan air suci. Di Jawa Tengah, tradisi ini dilakukan di Umbul Jumprit, mata air alami di lereng Gunung Sindoro yang tak pernah kering sepanjang tahun, sebelum dibawa secara kirab menuju Candi Mendut dan Candi Borobudur. Lebih dari sekadar tradisi turun-temurun, prosesi ini menyimpan makna filosofis dan spiritual yang sangat dalam, menjadi inti dari peringatan kelahiran, pencerahan, dan kemangkatan Buddha Gautama.

Simbol Kemurnian dan Penyucian Diri

Secara hakiki, air suci yang diambil melambangkan kesucian mutlak, kejernihan, dan kehidupan. Dalam ajaran Buddha, air adalah unsur yang paling lembut namun paling kuat, yang mampu mengalir ke mana saja, menyesuaikan diri, dan membersihkan segala kotoran. Air ini menjadi simbol aliran Ajaran Dharma yang senantiasa hadir, murni, dan menyejukkan hati siapa saja yang menerimanya.

Pengambilan air ini bukan sekadar mengambil air biasa, melainkan simbol niat suci umat untuk membersihkan diri—baik lahir maupun batin. Air suci dimaknai sebagai sarana membasuh tiga racun batin: lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan atau ketidaktahuan). Ketiga sifat inilah yang diyakini menjadi akar segala penderitaan dan kesulitan hidup manusia. Melalui prosesi ini, umat diajak merenung: seberapa jernih hati dan pikiran kita saat ini? Apakah masih ternoda oleh amarah, kecemasan, atau keinginan yang tak terpuaskan?

Kepala Bimas Buddha Kemenag RI pernah menjelaskan, air suci Waisak melambangkan ketenangan dan kerendahan hati. Seperti air yang selalu mengalir ke tempat rendah, umat diajak menumbuhkan sifat rendah hati, tidak sombong, dan selalu menempatkan diri dalam harmoni dengan sesama serta alam semesta .

Cerminan Ajaran Cinta Kasih dan Kedamaian

Tahun 2026 ini, tema perayaan Waisak mengusung semangat penguatan Dhamma melalui kebijaksanaan dan cinta kasih. Di sinilah letak makna pengambilan air suci semakin nyata. Air yang diambil, dibawa, dan disakralkan bersama Api Dharma dari Mrapen menjadi pesan keseimbangan kehidupan: air menyejukkan, api menerangi. Keduanya bersatu melambangkan bahwa kebijaksanaan harus disertai belas kasih, dan kedamaian harus dibagikan kepada semua makhluk.

“Pengambilan air suci bermakna pembersihan diri, namun intinya adalah menumbuhkan cinta kasih atau Metta. Air yang melimpah dan memberi kehidupan kepada semua tanpa membeda-bedakan, adalah contoh nyata bagaimana kita seharusnya mencintai sesama,” ungkap Bhikkhu Kamsai Sumano, dalam penjelasannya di Candi Mendut, kemarin.

Bagi umat, air suci ini kemudian digunakan dalam ibadah untuk memercikkan berkah, baik ke diri sendiri, keluarga, lingkungan, maupun makhluk hidup lain. Ini adalah wujud nyata dari ajaran Cattari Sangrahavatthu – cara menyatukan hati sesama makhluk, yaitu dengan kedermawanan, tutur kata yang manis, perbuatan yang bermanfaat, dan sikap yang setara.

Pesan untuk Kehidupan Nyata di Tahun 2026

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, penuh informasi, dan tantangan sosial, makna air suci Waisak justru menjadi relevan dan sangat dibutuhkan. Ritual ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi dan dunia modern tidak boleh membuat hati menjadi keruh, kering, atau kaku.

Pengambilan air suci mengajarkan kita untuk tetap menjadi seperti air: jernih dalam berpikir, tenang dalam menghadapi masalah, dan selalu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Seperti air yang tetap murni meski mengalir melewati tanah atau bebatuan, manusia yang mengamalkan ajaran Dharma diharapkan tetap menjaga kemurnian hati meski hidup di tengah beragam ujian dan godaan dunia.

Saat air suci tiba di Candi Borobudur pada puncak Waisak nanti, maknanya semakin lengkap: bahwa penyucian diri dan kedamaian batin adalah jalan utama menuju pencerahan, cita-cita yang sama persis yang dicapai oleh Siddhartha Gautama ribuan tahun silam.

Pengambilan air suci bukan sekadar upacara, melainkan janji suci: bertekad membersihkan hati, menebarkan kedamaian, dan menjadikan diri sebagai sumber manfaat, persis seperti air yang memberi kehidupan bagi semesta.

(SBE/AS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *