Tantangan Mahasiswa Papua di Tengah Budaya Banyumas

Banyumas, Radarreclasseering.com – Kemampuan beradaptasi dengan budaya yang berbeda menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki mahasiswa di era global. Rabu, (10/6/2026).

Hal tersebut disampaikan dalam Eurasia International Public Lecture Series 2026 yang digelar Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)

Dalam kegiatan tersebut, Ketua LPPM Unsoed menekankan pentingnya sensitivitas budaya dan komunikasi lintas budaya sebagai bekal mahasiswa menghadapi masyarakat yang semakin beragam.

Tantangan adaptasi budaya ternyata tidak hanya dihadapi ketika seseorang berinteraksi dengan masyarakat internasional.

Di lingkungan kampus sendiri, mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia juga harus belajar memahami budaya yang berbeda.

Perbedaan bahasa, kebiasaan, dan cara berkomunikasi sering kali menjadi tantangan tersendiri dalam proses penyesuaian diri di lingkungan baru.

Kondisi tersebut dirasakan oleh Sampari Timothy Msiren, mahasiswa Program Studi Sosiologi FISIP Unsoed angkatan 2022 asal Papua.

Sebelum berkuliah di Purwokerto, ia mengaku belum pernah mengenal kota tersebut.

Setelah mendapatkan informasi dari kakak tingkat dan mencari tahu tentang Unsoed, ia akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di Banyumas melalui jalur beasiswa.

Saat pertama kali tiba di Purwokerto, perbedaan budaya langsung terasa.

Menurutnya, lingkungan sosial, bahasa, hingga kebiasaan masyarakat Banyumas sangat berbeda dibandingkan dengan daerah asalnya.

“Jauh sekali perbedaannya.

Dari etnis, suku, budaya, sampai cara berbicara masyarakatnya.

Jadi memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” ujarnya.

Salah satu hambatan komunikasi lintas budaya yang paling sering dialami mahasiswa rantau adalah perbedaan bahasa.

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas budaya suatu masyarakat.

Ketika seseorang berada di lingkungan dengan bahasa yang berbeda, proses komunikasi menjadi lebih menantang karena tidak semua pesan dapat dipahami dengan mudah.

Bagi Sampari, dialek ngapak menjadi pengalaman baru yang sempat membuatnya kesulitan beradaptasi pada masa awal perkuliahan.

“Pernah dan cukup sering ketika awal-awal kuliah.

Apalagi kalau teman-teman ngobrol pakai bahasa Jawa,” katanya.

Perbedaan bahasa tersebut bahkan sempat menimbulkan kesalahpahaman.

Saat teman-temannya berbincang menggunakan bahasa Jawa, ia mengaku pernah merasa tidak dilibatkan dalam percakapan.

“Ketika teman-teman ngobrol pakai bahasa Jawa, saya sempat merasa tidak dihargai.

Saya pikir jangan-jangan mereka sedang membicarakan saya karena saya tidak mengerti apa yang mereka katakan,” tuturnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa kesalahpahaman tersebut muncul karena keterbatasan pemahaman bahasa, bukan karena adanya niat untuk mengucilkan dirinya.

Kehadiran teman-teman yang bersedia menerjemahkan percakapan menjadi salah satu faktor yang membantunya lebih nyaman dalam berinteraksi.

Selain bahasa, perbedaan kebiasaan masyarakat juga dapat menimbulkan culture shock bagi mahasiswa yang berasal dari daerah berbeda.

Culture shock merupakan kondisi ketika seseorang merasa asing terhadap lingkungan baru karena adanya perbedaan nilai, kebiasaan, maupun pola interaksi sosial.

Sampari mengaku sempat terkejut dengan beberapa kebiasaan masyarakat Banyumas, mulai dari makanan hingga cara masyarakat berinteraksi.

“Pertama bahasa ngapak, lalu makanan seperti mendoan yang menurut saya setengah matang.

Selain itu orang-orang di sini kalau bicara pelan dan sering bilang ‘monggo mas, mampir mas’. Awalnya saya pikir kok seperti sudah kenal dekat, ternyata memang masyarakatnya ramah dan peduli,”ungkapnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perbedaan budaya tidak selalu menjadi hambatan.

Dalam banyak kasus, perbedaan justru membuka kesempatan bagi seseorang untuk memahami cara hidup dan pola pikir yang baru.

Dalam proses adaptasi, lingkungan sosial memiliki peran yang sangat penting.

Mahasiswa yang mendapatkan dukungan dari teman sebaya cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan mereka yang menghadapi lingkungan yang tertutup.

Sebagai satu-satunya mahasiswa Papua di kelas pada masa awal perkuliahan, Sampari mengaku sempat merasa khawatir akan sulit diterima.

Namun, rasa penasaran dan keterbukaan teman-temannya justru membantunya membangun relasi yang lebih dekat.

“Awalnya saya takut diasingkan.

Ternyata teman-teman justru banyak bertanya dan ingin mengenal saya lebih dekat.

Lama-kelamaan kami jadi sering nongkrong bersama,”ujarnya.

Meski demikian, stereotip terhadap mahasiswa Papua masih sesekali ditemui.

Menurutnya, sebagian orang terkadang melontarkan komentar yang kurang tepat karena belum memahami latar belakang budaya yang berbeda.

“Kalau ada yang tidak tahu, saya lebih memilih menjelaskan.

Tapi kalau sudah berulang kali tentu rasanya tidak nyaman juga,”katanya.

Agar dapat beradaptasi dengan lebih baik, Sampari aktif mengikuti berbagai organisasi kampus.

Baginya, organisasi menjadi ruang belajar yang efektif untuk memahami budaya Banyumas sekaligus memperluas pergaulan.

“Organisasi sangat membantu.

Dari rapat sampai larut malam, kegiatan kampus, sampai turun langsung ke desa-desa saat penelitian membuat saya lebih memahami bahasa dan kebiasaan masyarakat di sini,”jelasnya.

ia juga mulai mempelajari bahasa ngapak melalui interaksi sehari-hari dengan teman dan masyarakat sekitar.

“Saya sering bertanya bagaimana cara mengucapkan suatu kalimat dalam bahasa ngapak.

Dari situ lama-lama jadi paham,”katanya.

Menurut Sampari, kemampuan memahami budaya orang lain merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kampus.

Lingkungan perguruan tinggi mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda, sehingga sikap saling menghargai menjadi kunci terciptanya hubungan sosial yang harmonis.

“Kalau kita tidak mau memahami budaya orang lain, akan sulit untuk belajar dan bekerja sama.

Apalagi di kampus kita sering bertemu orang dari latar belakang yang berbeda,”ujarnya.

ia juga berpesan kepada mahasiswa yang merantau ke daerah baru agar selalu menghormati budaya setempat dan membuka diri terhadap lingkungan sekitar.

“Kalau datang ke tempat baru, hargai budaya yang ada di sana dan jangan merasa paling benar,” pesannya.

Pengalaman Sampari menunjukkan bahwa hambatan komunikasi lintas budaya tidak selalu berakhir menjadi konflik.

Sebaliknya, melalui keterbukaan, interaksi sosial, dan kemauan untuk belajar, perbedaan budaya dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan sekaligus mempererat hubungan antar mahasiswa.

Di tengah keberagaman yang dimiliki Banyumas sebagai kota pendidikan, kemampuan memahami budaya orang lain menjadi keterampilan yang semakin penting. Sebab, komunikasi lintas budaya yang baik tidak hanya membantu seseorang beradaptasi, tetapi juga menciptakan lingkungan kampus yang inklusif, nyaman, dan saling menghargai.

 

Penulis Mahasiswa Brillian Sandi Putra Praja dan Muhamad Raga Warsito

 

(Red/One)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *