Kategori: Pariwisata

  • Kemah Sastra Seni Budaya ASEAN 2026 Sejalan dengan Program Prioritas Kemenbud

    Kemah Sastra Seni Budaya ASEAN 2026 Sejalan dengan Program Prioritas Kemenbud

    DUMAI,http://radarreclasseering.com – Kemah Sastra Seni Budaya ASEAN 2026 akan digelar pada 11–14 September 2026 di Pantai Tantrayana, Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai selama empat hari tiga malam, dan rencananya akan dibuka Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

    Sekitar 150 peserta pegiat seni budaya dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Singapura akan mengikuti dialog sastra, pertunjukan seni budaya, promosi kuliner tradisional, wisata bahari dengan pompong, serta berbagai aktivitas yang mengangkat kekayaan budaya Melayu.

    Sejalan dengan 5 Program Prioritas Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Tahun 2026, yang salah satu poinnya berbunyi “Diplomasi dan Promosi Kebudayaan”, tentu saja event besar ini menjadikan Kota Dumai jadi pusat perbincangan di kawasan ASEAN.

    Panitia pelaksana yang diketuai Tantri Subekti, S.Pd., berharap lewat event ini, ekonomi Dumai bisa bergerak cepat sehingga masyarakat Dumai bisa semakin sejahtera dan maju yang ujungnya tentu saja mendapat citra sebagai kota yang memiliki destinasi pariwisata seni, budaya dan kuliner di ASEAN.

    “Ini adalah event perdana yang kami rancang dengan semangat kolaborasi lintas negara. Harapan kami, kegiatan ini menjadi agenda budaya tahunan yang membanggakan Dumai sekaligus mempererat persaudaraan bangsa-bangsa serumpun di ASEAN,” ujar Tantri Subekti dengan ramah kepada Jurnalis saat wawancara.

    Tantri menyebut, dukungan Pemerintah Kota Dumai menjadi energi besar bagi panitia untuk menghadirkan kegiatan yang berkualitas dan berkelas internasional.

    “Ini sebuah langkah besar yang tengah dipersiapkan untuk mengangkat nama Kota Dumai di tingkat internasional. Jika event ini berhasil, maka Dumai diproyeksikan menjadi ikon baru diplomasi budaya Melayu di tingkat ASEAN sekaligus membuka jalan bagi Dumai menjadi tuan rumah agenda budaya tahunan berskala ASEAN,” cakap Tantri Subekti.

    Lanjut Tantri Subekti lagi, Kemah Sastra Seni Budaya ASEAN akan dihadiri sejumlah tokoh nasional dan ASEAN, di antaranya; Budi Sumarno, Bejo Sulistyo, Prof. Alaidin Koto, Prof. Husnus Abadi, Prof. Galang Asmara, dan Penasihat International Exhibition Art. Dato Seri Ramle bin Mat Daly (Malaysia), bersama para sastrawan, budayawan, akademisi, seniman, dan tokoh perfilman dari lima negara ASEAN.

    “Kami butuh dukungan semua pihak untuk mewujudkan ini,” pungkas Tantri Subekti didampingi panitia lainnya.

    Turut memperkuat kepanitiaan, Muhammad Irhan (Ucu) sebagai Wakil Ketua, Muhammad Kahar Jami (Wak Jek) sebagai Sekretaris, Sarinah sebagai Bendahara, Vira sebagai Bendahara II, serta Pak Chip Malaya selaku Koordinator Hubungan Internasional serta ibu Aprillia Koordinator acara.

    Untuk diketahui, Fokus Kemenbud Tahun 2026 adalah “Kemajuan kebudayaan yang berdampak langsung ke masyarakat”.

    5 Program Prioritas Kemenbud Tahun 2026:

    1. Dana IndonesiaRaya 2026
    Transformasi dari “Dana Indonesiana”.
    Program pendanaan terbesar untuk pelaku budaya
    – Dana: Rp500 miliar dialokasikan untuk 2026
    – Target: Perluas penerima dari 2.117 di 2025 jadi lebih banyak lagi
    – Cakupan: Komunitas, sanggar, anak, perempuan, disabilitas. Tidak dibatasi 10 objek pemajuan budaya
    – Skema: Lebih sederhana, berbasis IT, transparan. Ada pendampingan BPK daerah
    – Dana Abadi Kebudayaan: Sudah tumbuh Rp6 triliun

    2. Penulisan dan Penguatan Sejarah Nasional.
    – Target 2026: Menyusun buku sejarah Perang Mempertahankan Kemerdekaan 1945 – 1950 dan sejarah kerajaan Nusantara: Majapahit, Sriwijaya, Samudera Pasai
    – Lanjutan: 10 jilid Buku Sejarah Indonesia 8.000 halaman sudah diluncurkan Des 2025
    – Digitalisasi: Digitalisasi buku sejarah lokal seluruh Indonesia
    – Ada tim penasihat tokoh senior untuk landasan keilmuan

    3. Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026.
    – Tema: “Menyulam Ingatan, Merawat Kebangsaan: Menghidupkan Peristiwa Sejarah 1945-1950 dalam Sinema Kontemporer”
    – Tujuan: Kuatkan memori kolektif lewat film + edukasi nilai patriotisme ke generasi muda
    – Skema: Sayembara dan kolaborasi sineas dengan sejarawan

    4. Revitalisasi Tradisi Lokal dan Ekonomi Budaya.
    – Tradisi Lokal: Lestarikan seni, bahasa, kearifan lokal yang memudar dengan libatkan komunitas
    – Permainan Tradisional: Dorong congklak, gasing, bekel dll ke anak. Rencana buat Museum Permainan Tradisional Indonesia
    – Budaya Digital: Kembangkan platform digital untuk film, animasi, video game
    – Ekonomi Budaya: Kuatkan ekonomi budaya di daerah lewat festival, AMI, FMI, Sanfest

    5. Diplomasi dan Promosi Kebudayaan.
    – Internasional: Festival budaya, pameran, pertukaran budaya, Rumah Budaya Indonesia
    – Wayang: Dukung Hari Wayang Dunia 2026
    – UNESCO: Usulkan warisan budaya ke UNESCO dan repatriasi artefak
    – Beasiswa: Kerja sama LPDP untuk cetak duta budaya

    Capaian Pendukung:
    1. WBTBI: 514 WBTBI baru di 2025. Total 2.727 WBTBI
    2. Cagar Budaya: 85 Cagar Budaya Nasional baru. Total jadi 313 cagar budaya.
    3. Semarak Budaya: Penyaluran hampir 100%, total 8970 event budaya.

    Intinya Kemenbud fokus ke 3 hal yaitu; dana lebih besar, sejarah lebih kuat serta budaya lebih digital dan mendunia.

    (ES)

  • Dumai Dipilih Jadi Tuan Rumah Kemah Sastra Seni Budaya se ASEAN 2026

    Dumai Dipilih Jadi Tuan Rumah Kemah Sastra Seni Budaya se ASEAN 2026

    DUMAI,http://radarreclasseering.com – Kembali mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah kegiatan bertaraf internasional. Kemah Sastra Seni Budaya se ASEAN 2026 akan digelar pada 11–13 September 2026 di Pantai Tantrayana, Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, dengan menghadirkan peserta dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand.

    Agenda ini akan mempertemukan sastrawan, budayawan, akademisi, seniman, tokoh perfilman, serta pegiat budaya dalam satu forum kolaborasi untuk memperkuat persahabatan antarnegara se ASEAN sekaligus mempromosikan budaya Melayu dan potensi wisata Kota Dumai.

    Ketua Panitia TANTRI SUBEKTI mengatakan konsep perkemahan budaya dipilih untuk menghadirkan suasana kebersamaan di alam terbuka sekaligus mempromosikan potensi wisata dan budaya Melayu Dumai kepada dunia.
    Selain dialog sastra dan pertunjukan seni, peserta akan menikmati tradisi penyambutan kompang serta wisata bahari menyusuri kampung-kampung pesisir menggunakan pompong. Panitia menargetkan sekitar 150 peserta dalam kegiatan bertaraf internasional.

    Wali Kota Dumai H. Paisal, SKM., MARS menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, EVENT internasional ini menjadi kesempatan emas untuk memperkenalkan budaya Melayu, memperkuat sektor pariwisata, serta mengangkat nama Dumai di tingkat se ASEAN.

    Kegiatan ini ditargetkan diikuti sekitar 150 peserta dan menghadirkan sejumlah tokoh nasional maupun se ASEAN, di antaranya Budi Sumarno, Bejo Sulistyo, Prof. Alaidin Koto, Prof. Husnus Abadi, Prof. Galang Asmara, serta Datuk Seri Paduka Ramli. Panitia berharap Kemah Sastra Seni Budaya Se ASEAN 2026 menjadi tonggak lahirnya kolaborasi budaya dan industri kreatif yang membawa Dumai semakin dikenal di kancah internasional.

    *(Sus/ES)

  • Pemangku Adat Kenegerian Kubu Kembali Fasilitasi Perdamaian Melalui Adat Melayu

    Pemangku Adat Kenegerian Kubu Kembali Fasilitasi Perdamaian Melalui Adat Melayu

    ROKAN HILIR,http://radarreclasseering.com – Pemangku Adat Kenegerian Kubu kembali memfasilitasi penyelesaian perselisihan melalui mekanisme perdamaian adat Melayu. Proses tersebut digelar di Balai Adat Empat Suku Melayu Kenegerian Kubu setelah sebelumnya persoalan yang melibatkan dugaan seseorang mengucapkan perkataan yang tidak pantas terhadap seorang perempuan telah diselesaikan secara damai melalui proses di kepolisian.

    Sebagai bentuk pemulihan hubungan antara kedua belah pihak, penyelesaian kemudian dilanjutkan melalui mekanisme hukum adat berdasarkan kesepakatan para pihak, Jumat, 17/7/2026.

    Pemangku Adat Kenegerian Kubu, Zuhaifi, S.T., bergelar Encik Wira Siak, menyampaikan apresiasi kepada pihak kepolisian yang telah memberikan ruang bagi penyelesaian perkara melalui pendekatan damai dan adat.

    Menurutnya, penyelesaian perselisihan melalui musyawarah dan mekanisme adat dapat menjadi salah satu alternatif penyelesaian terhadap perkara-perkara tertentu yang memang dimungkinkan oleh ketentuan hukum, tanpa mengesampingkan proses hukum yang berlaku.

    “Namun tidak semua perkara dapat diselesaikan melalui mekanisme adat. Perkara seperti penyalahgunaan narkotika dan tindak pidana tertentu lainnya tetap harus diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Zuhaifi.

    Ia berharap penyelesaian melalui adat dapat memperkuat nilai-nilai persaudaraan, menjaga keharmonisan masyarakat, serta mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan perselisihan.

    Dalam kesempatan yang sama, Kepala Suku Melayu Hamba Raja Kenegerian Kubu, KH. H. Kamalul Matwafa, menyampaikan apresiasi kepada kedua belah pihak yang telah memilih menyelesaikan persoalan melalui perdamaian adat.

    Menurutnya, setiap manusia tidak luput dari kekhilafan. Karena itu, penyelesaian secara musyawarah dan saling memaafkan merupakan nilai yang perlu terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.

    Ia juga mengimbau masyarakat agar senantiasa berhati-hati dalam bertutur kata dan menjaga etika dalam berinteraksi dengan sesama untuk menghindari terjadinya perselisihan.

    Zuhaifi juga menyampaikan bahwa Balai Adat Empat Suku Melayu Kenegerian Kubu sebelumnya telah beberapa kali menjadi tempat penyelesaian berbagai perselisihan masyarakat melalui musyawarah adat. Menurutnya, keberadaan lembaga adat diharapkan dapat terus berperan dalam menjaga keharmonisan sosial dengan tetap menghormati ketentuan hukum yang berlaku.

    Prosesi perdamaian adat tersebut dihadiri oleh kedua belah pihak beserta keluarga masing-masing. Turut hadir Kepala Suku Melayu Hamba Raja Kenegerian Kubu, KH. H. Kamalul Matwafa; Pemangku Adat Kenegerian Kubu, Zuhaifi, S.T., bergelar Encik Wira Siak; Bhabinkamtibmas Kepenghuluan Rantau Panjang Kiri, Aipda Aziz Muslim, dari Polsek Kubu; serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

    Dengan terlaksananya perdamaian tersebut, kedua belah pihak menyatakan sepakat mengakhiri perselisihan dan menjaga hubungan baik ke depannya. Penyelesaian ini diharapkan menjadi contoh bahwa musyawarah dan perdamaian dapat menjadi solusi dalam menyelesaikan perselisihan yang memang memungkinkan untuk diselesaikan melalui pendekatan adat sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. (ROZI)

  • Larung Tumpeng: Rasa Syukur Nelayan Jatimalang dan Harapan Sejahtera Bersama

    Larung Tumpeng: Rasa Syukur Nelayan Jatimalang dan Harapan Sejahtera Bersama

    Purworejo,http://radarreclasseering.com – Deburan ombak Pantai Dewaruci berpadu riuh ribuan warga yang berdesakan menyaksikan puncak Merti Jaladri Jatimalang, Senin (6/7/2026). Bagi para nelayan dan warga pesisir, momen pelarungan 80 tumpeng serta gunungan hasil bumi ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan perwujudan doa tulus untuk laut yang memberi mereka nafkah sepanjang tahun.

    Selain upacara pelarungan tumpeng dan gunungan hasil bumi yang sarat makna rasa syukur dan penghormatan pada alam, rangkaian kegiatan selama tiga hari ini juga dirancang untuk memberdayakan masyarakat. Mulai dari pameran UMKM, pembagian bibit tanaman, hingga berbagai lomba dan pentas seni menjadi wadah bagi warga untuk berkreasi sekaligus membuka peluang usaha baru.

    Kegembiraan warga semakin terasa saat Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi beserta jajaran pejabat daerah lainnya hadir berbaur dalam keramaian. Dalam sambutannya, Wabup menyampaikan apresiasi mendalam atas keteguhan warga menjaga tradisi ini. “Semoga para nelayan senantiasa selamat dan diberkahi saat melaut,” ujarnya.

    Turut hadir dalam acara ini Kepala Kejaksaan Negeri Purworejo Widi Trismono, Anggota DPRD Provinsi Muhammad Hajar Zainudin, Anggota DPRD Kabupaten Awan Yoga Kurniawan, serta jajaran perangkat daerah terkait.

    Lebih dari sekadar upacara, Merti Jaladri kini menjadi jalan bagi warga untuk memperbaiki taraf hidup. Dukungan pemerintah, kolaborasi dengan Desa Jatimalang, serta kehadiran Koperasi Nelayan Merah Putih menjadi harapan baru agar hasil laut yang melimpah juga berbanding lurus dengan kesejahteraan keluarga nelayan.

    Kepala Desa Jatimalang Suwarto menjelaskan, tumpeng yang dilarung adalah tanda hormat pada keseimbangan alam, sedangkan tumpeng yang diperebutkan melambangkan kebersamaan berbagi berkah. Selama tiga hari perayaan, warga juga menikmati berbagai hiburan mulai dari pameran UMKM, pembagian bibit, hingga wayang kulit semalam suntuk.

    (SBE/AS)

  • ROAD TO RBR 2026, KAPOLRES ROHIL AJAK MASYARAKAT BERLARI LAWAN KARHUTLA DAN JAGA LESTARINYA ALAM ROHIL

    ROAD TO RBR 2026, KAPOLRES ROHIL AJAK MASYARAKAT BERLARI LAWAN KARHUTLA DAN JAGA LESTARINYA ALAM ROHIL

    Rokan Hilir,http://radarreclasseering.com – Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus mendukung pelaksanaan Riau Bhayangkara Run (RBR) 2026 yang diinisiasi Polda Riau, Polres Rokan Hilir menggelar kegiatan Road To Riau Bhayangkara Run 2026, Minggu (21/06/2026).

    Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Kapolres Rokan Hilir AKBP Isa Imam Syahroni, S.I.K., M.H., didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Rokan Hilir Ny. Fikih Isa.

    Kapolres secara resmi melepas para peserta dari garis start yang berada di Mapolres Rokan Hilir. Turut hadir Wakapolres Rohil Kompol Rikky Operiady, S.Sos., S.I.K., M.I.K., para Pejabat Utama Polres Rohil, Kapolsek jajaran, pengurus Bhayangkari, serta tamu undangan lainnya.

    Rute lari dimulai dari Mapolres Rokan Hilir menuju kawasan eks Komplek IPDN dan kembali finis di Mapolres Rohil. Ratusan peserta dari berbagai kalangan tampak antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung penuh semangat, kebersamaan, dan sportivitas.

    Lebih dari sekadar ajang olahraga, Road To Riau Bhayangkara Run 2026 menjadi sarana kampanye publik dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan serta mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi ancaman serius bagi Kabupaten Rokan Hilir.

    Kapolres Rokan Hilir AKBP Isa Imam Syahroni menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Polri dalam mengajak masyarakat berperan aktif menjaga kelestarian alam melalui pendekatan yang humanis, edukatif, dan kolaboratif.

    “Riau Bhayangkara Run 2026 bukan hanya tentang berlari menuju garis finis, tetapi juga tentang membangun kepedulian dan tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan. Setiap langkah yang diayunkan merupakan pesan dan komitmen bersama untuk mencegah karhutla, menjaga hutan tetap lestari, serta melindungi ekosistem dan satwa liar yang menjadi kekayaan alam Riau,” ungkap Kapolres.

    Melalui semangat Green Policing, Polres Rokan Hilir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan hidup.

    Kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang dapat menimbulkan kerugian besar, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun kelestarian ekosistem.

    Selain mengampanyekan gerakan melawan karhutla, kegiatan ini juga memperkuat sinergitas antara Polri, pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas olahraga, dan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang hijau, sehat, dan bebas dari bencana kabut asap.

    Melalui Road To Riau Bhayangkara Run 2026, Polres Rokan Hilir menunjukkan komitmennya untuk terus mendukung program Polda Riau dalam menjaga kelestarian lingkungan, mengedukasi masyarakat tentang bahaya karhutla, serta mengajak seluruh lapisan masyarakat menjadi bagian dari gerakan bersama menjaga alam demi masa depan generasi yang akan datang.(Red/ROZI)

  • Harmoni Jari-Jemari Muda: Lukisan Siswa Purworejo Bercerita di Ruang Kesenian

    Harmoni Jari-Jemari Muda: Lukisan Siswa Purworejo Bercerita di Ruang Kesenian

    PURWOREJO,http://radarreclasseering.com – Di antara ratusan kanvas yang berjejer rapi di Gedung Kesenian WR Soepratman, ada lebih dari sekadar goresan warna dan bentuk. Ada impian, pandangan dunia, dan kegembiraan anak-anak Purworejo yang terbungkus rapi dalam ajang Student Painting Exhibition #2 bertajuk Harmoni dalam Karya. Selama tiga hari, 29 hingga 31 Mei 2026, ruang ini berubah menjadi panggung di mana suara generasi muda berbicara lewat seni.

    Pameran ini bukan sekadar agenda tahunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) bekerja sama dengan Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Purworejo. Bagi para pelajar dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK se-Kabupaten Purworejo yang karyanya dipajang, ini adalah momen berharga: saat imajinasi mereka yang selama ini tersimpan di buku sketsa atau ruang kelas, akhirnya berhak mendapatkan tempat terpandang dan disaksikan banyak orang.

    Suasana haru dan bangga terasa kental saat Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi SIKom MSi, didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Purworejo, Raja Thifal Mazaya Izzati SIKom, berkeliling menelusuri setiap sudut pameran. Wabup Dion tak sekadar menilai, tetapi benar-benar menyelami makna di balik setiap karya. Ia melihat keberanian dan kematangan berpikir yang tersembunyi di balik goresan tangan anak-anak ini.

    “Bukan tidak mungkin, dari sini lahir nama-nama besar pelukis yang akan mengharumkan nama Purworejo di kancah yang lebih luas,” ujar Dion, yang seolah membaca potensi masa depan dari setiap kanvas yang dilihatnya. Baginya, karya-karya ini adalah bukti nyata bahwa Purworejo menyimpan bakat seni yang luar biasa, yang hanya butuh satu hal: ruang untuk tumbuh.

    Pesan utama pameran ini pun jelas: seni bukan sekadar hobi, melainkan bagian penting dari tumbuh kembang anak. Kepala Dindikbud, Yudhie Agung Prihatno SSTP MM, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen daerah untuk membangun karakter melalui seni.

    “Kami ingin anak-anak tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan rasa dan kecintaan terhadap budaya sejak dini. Pameran ini adalah bukti bahwa kreativitas mereka dihargai, didengar, dan didukung sepenuhnya,” kata Yudhie.

    Beragam tema, teknik, dan gaya yang ditampilkan menjadi bukti keberagaman cara anak-anak melihat dunia. Ada yang melukis keindahan alam, ada yang mengangkat kearifan lokal, hingga yang menuangkan harapan dan cita-cita mereka. Semuanya menyatu dalam satu harmoni: kebanggaan menjadi bagian dari Purworejo.

    Lebih dari sekadar ajang pamer, kegiatan ini menjadi fondasi ekosistem kesenian yang kian kokoh di daerah ini. Ketika masyarakat datang melihat, mengapresiasi, dan mendukung, mereka turut serta menanam benih-benih seni yang kelak akan tumbuh menjadi kebanggaan bersama.

    Di akhir pameran, satu pesan tersisa yang paling berharga: di Purworejo, setiap goresan karya anak bangsa memiliki arti, dan setiap mimpi seniman muda berhak mendapatkan panggungnya sendiri.
    (SBE/AS)

  • Pengambilan Air Suci: Inti Spiritual Perayaan Waisak 31 Mei 2026

    Pengambilan Air Suci: Inti Spiritual Perayaan Waisak 31 Mei 2026

    Purworejo,http://radarreclasseering.com –Disari dari berbagai sumber, puncak peringatan Tri Suci Waisak 2570 BE yang jatuh pada 31 Mei 2026, umat Buddha di seluruh Indonesia kembali melaksanakan salah satu rangkaian ritual paling sakral: pengambilan air suci. Di Jawa Tengah, tradisi ini dilakukan di Umbul Jumprit, mata air alami di lereng Gunung Sindoro yang tak pernah kering sepanjang tahun, sebelum dibawa secara kirab menuju Candi Mendut dan Candi Borobudur. Lebih dari sekadar tradisi turun-temurun, prosesi ini menyimpan makna filosofis dan spiritual yang sangat dalam, menjadi inti dari peringatan kelahiran, pencerahan, dan kemangkatan Buddha Gautama.

    Simbol Kemurnian dan Penyucian Diri

    Secara hakiki, air suci yang diambil melambangkan kesucian mutlak, kejernihan, dan kehidupan. Dalam ajaran Buddha, air adalah unsur yang paling lembut namun paling kuat, yang mampu mengalir ke mana saja, menyesuaikan diri, dan membersihkan segala kotoran. Air ini menjadi simbol aliran Ajaran Dharma yang senantiasa hadir, murni, dan menyejukkan hati siapa saja yang menerimanya.

    Pengambilan air ini bukan sekadar mengambil air biasa, melainkan simbol niat suci umat untuk membersihkan diri—baik lahir maupun batin. Air suci dimaknai sebagai sarana membasuh tiga racun batin: lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan atau ketidaktahuan). Ketiga sifat inilah yang diyakini menjadi akar segala penderitaan dan kesulitan hidup manusia. Melalui prosesi ini, umat diajak merenung: seberapa jernih hati dan pikiran kita saat ini? Apakah masih ternoda oleh amarah, kecemasan, atau keinginan yang tak terpuaskan?

    Kepala Bimas Buddha Kemenag RI pernah menjelaskan, air suci Waisak melambangkan ketenangan dan kerendahan hati. Seperti air yang selalu mengalir ke tempat rendah, umat diajak menumbuhkan sifat rendah hati, tidak sombong, dan selalu menempatkan diri dalam harmoni dengan sesama serta alam semesta .

    Cerminan Ajaran Cinta Kasih dan Kedamaian

    Tahun 2026 ini, tema perayaan Waisak mengusung semangat penguatan Dhamma melalui kebijaksanaan dan cinta kasih. Di sinilah letak makna pengambilan air suci semakin nyata. Air yang diambil, dibawa, dan disakralkan bersama Api Dharma dari Mrapen menjadi pesan keseimbangan kehidupan: air menyejukkan, api menerangi. Keduanya bersatu melambangkan bahwa kebijaksanaan harus disertai belas kasih, dan kedamaian harus dibagikan kepada semua makhluk.

    “Pengambilan air suci bermakna pembersihan diri, namun intinya adalah menumbuhkan cinta kasih atau Metta. Air yang melimpah dan memberi kehidupan kepada semua tanpa membeda-bedakan, adalah contoh nyata bagaimana kita seharusnya mencintai sesama,” ungkap Bhikkhu Kamsai Sumano, dalam penjelasannya di Candi Mendut, kemarin.

    Bagi umat, air suci ini kemudian digunakan dalam ibadah untuk memercikkan berkah, baik ke diri sendiri, keluarga, lingkungan, maupun makhluk hidup lain. Ini adalah wujud nyata dari ajaran Cattari Sangrahavatthu – cara menyatukan hati sesama makhluk, yaitu dengan kedermawanan, tutur kata yang manis, perbuatan yang bermanfaat, dan sikap yang setara.

    Pesan untuk Kehidupan Nyata di Tahun 2026

    Di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, penuh informasi, dan tantangan sosial, makna air suci Waisak justru menjadi relevan dan sangat dibutuhkan. Ritual ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi dan dunia modern tidak boleh membuat hati menjadi keruh, kering, atau kaku.

    Pengambilan air suci mengajarkan kita untuk tetap menjadi seperti air: jernih dalam berpikir, tenang dalam menghadapi masalah, dan selalu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Seperti air yang tetap murni meski mengalir melewati tanah atau bebatuan, manusia yang mengamalkan ajaran Dharma diharapkan tetap menjaga kemurnian hati meski hidup di tengah beragam ujian dan godaan dunia.

    Saat air suci tiba di Candi Borobudur pada puncak Waisak nanti, maknanya semakin lengkap: bahwa penyucian diri dan kedamaian batin adalah jalan utama menuju pencerahan, cita-cita yang sama persis yang dicapai oleh Siddhartha Gautama ribuan tahun silam.

    Pengambilan air suci bukan sekadar upacara, melainkan janji suci: bertekad membersihkan hati, menebarkan kedamaian, dan menjadikan diri sebagai sumber manfaat, persis seperti air yang memberi kehidupan bagi semesta.

    (SBE/AS)

  • Desa Wisata Jenggawah, Siap Terima Kehadiran Wisatawan Lokal dan Nasional

    Desa Wisata Jenggawah, Siap Terima Kehadiran Wisatawan Lokal dan Nasional

    Jember,http://radarreclasseering.com

    Desa Jenggawah siap menjadi Desa Jujugan Wisatawan Lokal dan Jawa Tumur melalui Program Desa Wisata yang digadang-gadang dan diproyeksikan menjadi Wisata Nasional.

    Jenggawah adalah sebuah desa sekaligus pusat pemerintahan Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini dikenal sebagai dataran rendah yang subur, didominasi oleh areal persawahan dan perkebunan.

    Memiliki batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan Desa Klompangan (Kec. Ajung), selatan dengan Desa Wonojati (Kec. Jenggawah), timur dengan Desa Lengkong (Kec. Mumbulsari), dan barat dengan Desa Mangaran (Kec. Ajung). Memiliki luas wilayah mencapai 919,72 hektar yang terbagi menjadi 7 dusun: Krajan, Langsepan, Gayasan A, Gayasan B, Jatirejo, Curah Buntu, dan Babatan. Sebagian besar warga berprofesi sebagai petani, mengingat lebih dari 674 hektar wilayahnya berupa areal persawahan. Untuk Kantor Kepala Desa terletak di Jalan Semeru No. 32, Jenggawah.

    Kepala Desa Jenggawah, Supardi saat ini gencar mempromosikan Desa Wisata yang digawanginya. Wisata tersebut antara lain pesona pedesaan yang dianggap mirip landscape persawahan yang sering dijuluki memiliki nuansa seperti di Jepang.

    Selain itu, Jenggawah juga punya tempat tongkrongan untuk semua generasi baik tua dan muda di salah satu Bukit yang kini Bukit tersebut sudah dikelola dengan penataan tempat ngopi yang asyik dan romantis dengan nama Kafe Bukit Nuansa.

    Untuk bisa Sampai ke Kafe Bukit Nuansa jaraknya sekitar 1 jam dari Pusat Kota Jember menggunakan kendaraan pribadi. Petunjuk arah mengikuti Mapping yang tersedia di Aplikasi Mobile Phone kita masing-masing. Jika sudah sampai di Desa Jenggawah, petunjuk ke Kafe Bukit Nuansa tersebut banyak terlihat di sudut atau persimpangan jalan Desa.

    “Ayo Bersama-sama Dukung serta Majukan Wisata Desa”, pinta Supardi kepada Masyarakat Desa Jenggawah melalui Media Online Radarreclasseering.com agar Desa Wisata Jenggawah dikenal masyarakat luas baik Lokal maupun Nasional.

    Supardi juga menambahkan untuk generasi muda, mengajak “Bersama mendukung Kemajuan Desa Jenggawah melalui sektor Pariwisata lokal dengan menjaga, mengunjungi dan mempromosikan Wisata Desa. Maka kita juga pastinya ikut meningkatkan ekonomi masyarakat dan ikut Memperkenalkan potensi Desa Wisata.Jenggawah kepada Masyarakat luas”, pungkasnya.

    PPID Desa Jenggawah untuk Media Online Radarreclasseering.com

    (SB/Nono/Indra)

     

     

  • Manfaatkan Teknologi Dongkrak Sektor Wisata, Potensi Alam hingga Budaya Harus Terangkat

    Manfaatkan Teknologi Dongkrak Sektor Wisata, Potensi Alam hingga Budaya Harus Terangkat

    Jombang, Radarreclasseering.com – Upaya memperkuat sektor pariwisata nasional terus digenjot maksimal. Kali ini, digelar kegiatan Diseminasi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara yang berfokus pada optimalisasi pemanfaatan teknologi digital. Acara ini menjadi wadah strategis untuk berbagi ilmu dan teknik guna menghadapi persaingan pariwisata global.

    Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Anggota Komisi VII DPR RI, Banyu Biru Djarot. Hadir pula Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Jombang, Nur Evva Maylia, S.STP., M.M, serta perwakilan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Muhammad Iqbal Arif.

    Dalam kesempatan tersebut, juga dihadirkan narasumber kompeten dari praktisi, yakni Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Uri Hakim, yang membagikan wawasan mendalam mengenai strategi digital marketing yang efektif dan aplikatif.

    Dalam sambutannya, Bu Eva menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan wisata yang luar biasa, mulai dari wisata alam, budaya, hingga buatan manusia. Semua potensi tersebut harus bisa dikelola dan dipromosikan secara maksimal agar dikenal dunia.

    “Jadi memang nantinya kita bisa memanfaatkan bersama-sama. Kesempatan ini sangat baik. Apalagi nanti ada narasumber yang akan menyampaikan bagaimana strategi pemasaran pariwisata melalui pemanfaatan digital marketing,” ujarnya.

    Lebih jauh, Kepala Dispar Jombang ini berharap seluruh peserta dapat menyerap ilmu yang diberikan dan langsung mempraktikkannya.

    “Harapan kami, Panjenengan mengikuti kegiatan ini dengan baik. Setelah mendapat pengetahuan dan ilmu, silakan diterapkan untuk meningkatkan pariwisata di daerah masing-masing, khususnya di Bawah Tejomba,” tegasnya.

    Antusiasme positif juga datang dari Gus Ganden, Wakil Ketua Komda YJPRSA LRI Kabupaten Jombang. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap program strategis ini.

    “Kami sangat antusias mendukung program ini. Harapannya, dengan kegiatan ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan geliat pariwisata di daerah masing-masing,” ungkapnya.

    Acara yang dipersembahkan oleh Wonderful Indonesia ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mempromosikan kekayaan tanah air ke mata dunia. Sebagai brand nasional yang dikelola Kemenparekraf, Wonderful Indonesia bukan sekadar slogan, melainkan janji negeri ini menyimpan sejuta keindahan dan ketakjuban.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan semakin masif memanfaatkan platform digital, sehingga daya saing wisata nasional semakin meningkat dan kesejahteraan masyarakat pun terangkat.(Tim).

  • Liburan Hari Raya Idul Fitri 2026, Pantai Ketawang Ramai Pengunjung

    Liburan Hari Raya Idul Fitri 2026, Pantai Ketawang Ramai Pengunjung

    Purworejo, Pantai Ketawang,http://radarreclasseering.com – Kamis, 26 Maret 2026 menjadi hari yang pas buat melepas penat saatliburan Idul Fitri 2026 , wisatawan dari Purworejo dan sekitarnya mengalir ke bibir pantai ini, menikmati sinar matahari, pasir hitam yang lembut, dan deburan ombak yang cukup besar.

    Pantai Ketawang yang berlokasi di Desa Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, Purworejo adalah salah satu destinasi wisata favorit bagi masyarakat.

    Cuaca cerah dengan suhu sekitar 27‑30 °C, meski awan menutupi sebagian langit dan ada peluang hujan gerimis pada sore hari. Kelembapan tinggi (sekitar 92 %) membuat suasana terasa hangat, namun angin barat laut yang lembut membantu menyejukkan.

    Pengelola Pantai Ketawang membuka fasilitas standar: area parkir (Rp 3.000 untuk motor, Rp 6.000 untuk mobil), toilet, mushola, serta gazebo yang bisa disewa seharga Rp 20.000. Pengunjung juga dapat mencoba wahana ATV (Rp 30.000/10 menit) atau naik kuda (Rp 10.000‑15.000). Untuk yang ingin mengabadikan pemandangan, mercusuar setinggi 15 meter dibuka dengan tiket masuk Rp 5.000.

    Kegiatan favorit meliputi jalan‑jalan di pasir, bermain voli pantai, dan menyewa ATV untuk berkeliling area. Beberapa wisatawan juga memanfaatkan spot foto di atas mercusuar atau di antara deretan pohon cemara yang rindang. Kuliner lokal tersedia di warung‑warung pinggir pantai, dengan harga jajanan yang terjangkau. “Wedang Uwuh ini rasanya khas dan nikmat serta menyegarkan, karena terdiri dari aneka rempah-rempah, dan harganyapun sangat terjangkau segelas hanya Rp 10.000 ” ungkap Mawar seorang pengunjung Pantai Ketawang.

    Kepala Desa Ketawangrejo, Bapak Agus Hartono, mengimbau pengunjung agar tetap menjaga kebersihan dan mengikuti arahan Petugas, terutama mengingat ombak yang bisa mencapai tiga meter. Pengunjung dilarang mandi dan berenang di laut karena sangat membahayakan.
    “Pantai ini menjadi pilihan tepat untuk liburan akhir tahun. Kami berharap semua dapat menikmati suasana alam yang masih asri sambil tetap menjaga lingkungan,” ujarnya.

    Dengan libur akhir pekan yang berlanjut hingga Senin, Pantai Ketawang diprediksi masih akan ramai hingga malam hari. Pengunjung disarankan datang lebih awal, membawa aneka perlengkapan seperti : pakaian ganti, sabun mandi, handuk, Sunblock, sendal jepit, kaca mata hitam, payung atau topi untuk melindungi diri dari sinar matahari maupun hujan gerimis yang sesekali turun.

    (SBE)