Nopia dan Mino dalam Bingkai Lintas Budaya Banyumas dan Tionghoa

Banyumas, Radarreclasseering.com – Banyumas terkenal dengan kulinernya yang khas dan beragam. Rabu, (10/6/2026).

Salah satu kuliner khas Banyumas yang ada sampai saat ini dan menjadi identitas daerah yaitu nopia dan mino. Kedua makanan ini seringkali dijadikan sebagai oleh-oleh khas Banyumas.

Tidak hanya itu, dibalik rasanya yang gurih-manis legit, nopia dan mino menjadi bukti adanya pertemuan budaya antara masyarakat Banyumas dengan masyarakat Tionghoa.

Prosesnya yang membutuhkan lebih dari satu abad ini menjadikan nopia dan mino berkembang menjadi kuliner yang mengharmonisasikan dua budaya dalam kehidupan masyarakat setempat.

Hubungan nopia dan mino dengan budaya Tionghoa sendiri bermula dari sejarah kemunculannya di Banyumas.

Berbagai sumber menyebutkan bahwa awal mula nopia diproduksi pada tahun 1880 oleh Ting Sing Piang, masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di Banyumas.

Pak Sukadi (perajin senior) dan para pembuat lain juga menegaskan nopia diperkenalkan oleh keturunan Tionghoa.

Makanan tersebut kemudian dikenalkan pada masyarakat sekitar Banyumas dan dapat diterima tanpa memandang latar belakang budaya yang berbeda.

Sejak saat itu, nopia dan mino mulai berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lokal.

Nopia sendiri merupakan kue berbentuk bulat yang memiliki tekstur renyah di luar dengan isian gula merah yang menempel pada dinding kulitnya.

Sedangkan mino merupakan singkatan dari mini nopia, versi kecil dari nopia yang dibuat supaya lebih praktis untuk dinikmati.

Keunikan keduanya tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada cara pembuatannya yang masih menggunakan tungku gentong tradisional.

Teknik pemanggangan di tungku gentong menjadi salah satu ciri khas yang membedakan nopia dan mino dari berbagai jenis pia lainnya di Indonesia.

Dalam perspektif lintas budaya, nopia dan mino menunjukkan terjadinya akulturasi antara budaya Tionghoa dan budaya Banyumas.

Proses akulturasi tersebut terjadi ketika masyarakat Banyumas mengadaptasi resep yang dibawa oleh perantau Tionghoa dengan bahan dan teknik yang tersedia di daerah setempat.

Perubahan ini terjadi karena produsen asli Tionghoa melibatkan warga setempat, mengganti isi non-halal (daging/babi) dengan gula merah dan varian rasa yang lain.

Dari segi bentuknya, nopia dan mino juga memiliki bentuk dasar yang mirip dengan kue pia dalam tradisi kuliner dari Tionghoa.

Setelah berinteraksi dengan budaya lokal, bahan, rasa dan cara produksinya disesuaikan dengan selera masyarakat yang ada di Banyumas.

Adanya akulturasi ini tentu saja tidak menghilangkan identitas salah satu budaya, tetapi menghasilkan budaya baru yang diterima oleh keduanya.

Dengan adanya inovasi, menunjukkan bahwa suatu warisan budaya dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.

Dari segi rasa, nopia dan mino juga mengembangkan inovasi dengan adanya varian rasa selain gula jawa, yaitu cokelat, pandan dan durian, sehingga dapat menjangkau lintas generasi.

nopia Banyumas adalah produk akulturasi unik karena bahan dan tekniknya mirip pia Tionghoa, tetapi rasa dan fungsinya diintegrasi dalam tradisi lokal Jawa.

Perbedaan tekstur dan isian gula (bukan kacang) membuat nopia lebih keras dan awet untuk dijadikan oleh-oleh.

Perubahan ini terjadi karena produsen asli Tionghoa melibatkan warga setempat, mengganti isi non-halal (daging/babi) dengan gula merah dan varian rasa lokal.

Selain itu, terdapat pula tempat yang dikenal memproduksi nopia dan mino, yaitu Desa Pekunden yang dikenal sebagai Kampung Nopia Mino.

Menjadikan tempat tersebut sebagai pelestarian tradisi sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang berkunjung.

Di desa ini, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung bagaimana proses pembuatan nopia dan mino yang masih mempertahankan cara tradisional.

Dengan adanya nopia dan mino menunjukkan bahwa adanya perbedaan budaya dapat melahirkan kreativitas dan identitas baru, serta menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat setempat.

Dalam bingkai lintas budaya, kedua kuliner ini menjadi simbol adanya keberhasilan dalam interaksi antara masyarakat Banyumas dan Tionghoa.

Oleh karena itu, nopia dan mino tidak hanya layak dipandang sebagai makanan khas daerah, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan keberagaman dan keharmonisan budaya oleh masyarakat di Banyumas.

 

Penulis Mahasiswa Bening Wiji Nastiti dan Rizki Amalia

 

(Red/One)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *