Polisi Bongkar Pabrik Ekstasi di Permukiman Padat Semarang, Produksi Capai 1 Ton  

SEMARANG, Radarreclasseering.com – Polisi membongkar lokasi produksi obat terlarang jenis ekstasi dengan kapasitas produksi mencapai 1 ton di Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah. Penggerebekan ini mengejutkan warga karena lokasinya berada di kawasan permukiman padat penduduk.

Ketua RT setempat, Ato (40), menjelaskan bahwa aksi penggerebekan terjadi pada Jumat (10/4). Awalnya, sejumlah personel dari Polda Metro Jaya datang sekitar pukul 08.00 WIB untuk menanyakan keberadaan penyewa gudang bernama Joni.

“Mereka menanyakan penyewa bernama Joni dan sempat bertanya kepada orang tua pemilik gudang. Namun, di sini tidak ada yang mengenal nama itu,” ujar Ato, Minggu (11/4).

Menjelang malam, kepolisian kembali mendatangi lokasi dengan membawa tiga terduga pelaku. Salah satu orang yang diamankan diketahui merupakan pemilik gudang dan warga asli setempat, sementara dua orang lainnya belum dikenal oleh warga.

“Awalnya ramai, ternyata ada penggerebekan narkoba. Ada tiga orang diamankan, salah satunya warga sini. Dua lainnya saya belum pernah melihat,” katanya.

Ato mengaku sangat kaget mengetahui gudang tersebut dijadikan tempat produksi ekstasi. Pasalnya, selama ini aktivitas di sana terlihat sangat sepi dan tidak mencurigakan.

“Sehari-hari tidak ada aktivitas. Tidak ada orang lalu-lalang, tidak ada mobil datang. Sunyi. Sudah sekitar satu tahun seperti itu,” ungkapnya.

Bahkan, gudang tersebut kerap digunakan untuk kegiatan warga. “Dulu dipakai untuk senam warga. Sebelum puasa juga pernah saya gunakan untuk mencacah tanaman untuk pakan sapi,” tambahnya.

Meski demikian, warga mengakui bahwa sang pemilik memang sering tinggal dan tidur di dalam gudang yang dilengkapi kamar pribadi tersebut, namun tidak ada warga yang pernah masuk ke bagian dalam.

Dalam penggerebekan itu, polisi juga menyita sejumlah mesin yang diduga digunakan untuk proses produksi. “Saya masih kaget, tidak menyangka. Orangnya dikenal baik, ramah, dan terbuka. Warga asli sini,” tutup Ato.(TY)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *