Kediri, Radarreclasseering.com – Sorotan tajam dan seruan keras kembali bergema dari kalangan internal Nahdlatul Ulama (NU) terkait persiapan gelaran akbar Muktamar NU ke depan. Isu netralitas panitia dan penentuan lokasi pelaksanaan menjadi dua poin utama yang digarisbawahi agar tidak mencederai semangat dan jati diri organisasi akbar ini
Berdasarkan arahan dan garis kebijakan dari tiga basis pondok pesantren sentral yang menjadi rujukan utama di tubuh PBNU, yakni Pondok Lirboyo (Hidayatul Mubtadi’in), Pondok Tebu Ireng (Hadrotussyekh KH. Hasyim Asy’ari), serta Pondok Ploso (Al Falah), ada pesan tegas yang disampaikan melalui jajaran pimpinan pusat: Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal PBNU.
“Muktamar NU adalah puncak ibadah organisasi yang bernilai sakral, bukan sekadar pertemuan biasa. Maka mutlak harus digelar di lingkungan pondok pesantren, rumah asli tempat lahir dan tumbuhnya NU,” tegas salah satu perwakilan pimpinan dengan nada menekan.
Pihaknya secara terang-terangan menolak keras jika nantinya acara puncak ini justru dipindah ke lokasi di luar lingkungan pesantren, apalagi memilih tempat berupa vila, hotel berbintang, atau gedung komersial mewah lainnya. Menurut mereka, langkah tersebut sama saja dengan mencederai nilai sejarah, kesakralan, dan identitas asli NU yang tumbuh dari akar tradisi pesantren sejak zaman para pendiri.
“Jangan sampai demi alasan kenyamanan atau fasilitas, kita malah mengubur jati diri sendiri. Menggelar Muktamar di tempat komersial seperti hotel atau vila itu mencederai perjuangan ulama pendahulu. Itu bukan cuma soal tempat, tapi soal jiwa dan ruh yang sedang dijaga,” tambahnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Gus Fuad Badas, salah satu tokoh aktif dari lingkungan pondok pesantren di Kabupaten Kediri yang dikenal tak kenal takut dan kerap turun ke jalan menyuarakan kebenaran.
Muktamar NU itu acara sakral, Jagan dibuat kaya acara umum lainya. Jagan diadakan diluar Pesantren, apalagi di Hotel atau Villa, itu melanggar nilai-nilai luhur yang sudah diwariskan dari para leluhur terdahulu.
Masyarakat juga warga NU tidak bakal terima itu” tegas Gus Fuad dengan nada tegas.
Selain soal lokasi, isu netralitas panitia pelaksana juga digarisbawahi sebagai syarat mutlak. Panitia harus benar-benar bersih, adil, dan tidak memihak ke kelompok atau tokoh tertentu demi kepentingan sesaat.
Netralitas adalah kunci agar Muktamar berjalan jujur, demokratis, dan menghasilkan kepemimpinan yang benar-benar amanah.
“Masyarakat NU dan publik sedang menatap tajam. Jangan biarkan kepentingan kelompok menggerogoti kemurnian acara akbar ini. Kembalikan Muktamar ke ‘rumahnya’, yaitu di tengah asrinya lingkungan pondok pesantren, agar nilai keberkahan dan kesakralannya tetap terjaga utuh,” pungkas seruan itu.(Ty)









