Keresahan Masyarakat Semboro – Jember, Atas Kelangkaan LGP Melon 3Kg, Pemkab Jember Belum Turun Tangan?

Jember,http://radarreclasseering.com –Warga masyarakat sekitar Desa Semboro dan Sidomekar, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, belakangan ini kesulitan untuk mendapatkan Gas elpiji 3 kg (melon). Bahkan di sejumlah Agen maupun Kios resmipun sering kosong dan tidak tersedia untuk masyarakat.

Hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti dari kelangkaan Gas elpiji 3 Kg (melon) tersebut. Masyarakat merasa bingung harus mengadu pada siapa, mengingat kebutuhan Gas elpiji tersebut merupakan hal pokok untuk memasak sehari-hari. Namun Pemerintah Kabupaten Jember pun hingga saat ini tidak turun tangan dan belum ada upaya dari pihak-pihak pemangku kebijakan.

Ditengah keterbatasan saat ini, warga kembali menggunakan tungku tradisional dengan kayu bakar, dan itupun tidak semua rumah tangga memiliki tungku yang terbuat dari bahan semen bata sehingga merekapun berusaha lebih keras untuk mendapatkan Gas elpiji 3 kg (melon) tersebut.

Menurut salah satu pengecer, “Abdul Gofur setiap pengecer hanya mendapatkan jatah sekitar 14 tabung Gas elpiji 3 kg (melon) perminggu. Dan rata-rata 2 tabung perhari dengan jumlah tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, dan itu memang susah mendapatkan elpiji.

Ya dapat, cuman dibatasi perminggu di warung-warung 15 biji, jadi orang-orang beli itu sehari itu habis. Kami beli itu harga 22 ribu, harga jualnya ada yang 24 ribu dan ada yang jual 25 ribu pertabung”, ujarnya.

“Menambahkan, Jadi isu yang selama ini berkembang di Semboro dengan harga 30 ribu pertabung, itu tidak benar, jadi saya sendiri menjual pertabung harga sekitar 24 ribu sampai dengan harga 25 ribu itu saja, dan paling tinggi di Semboro itu harga elpiji 25 ribu itu sudah tidak ada gas sama sekali.

Dibilang mahal itu karena alasannya tidak ada, bahannya tidak ada, cuman di jatah 15 tabung Gas elpiji, jadi kasihan masyarakat kalau tidak ada Gas elpiji dan cari kemana-mana tidak ada. Kelangkaan Gas elpiji ini terpaksa masyarakat ada yang menggunakan tungku untuk memasak.”pungkas Gofur.

Bibit (65) tahun, warga Sidomekar juga muter-muter cari Gas elpiji 3 kg (melon), kesana-kemari juga tidak dapat. Jadi walaupun agak naik dikit gak masalah yang penting ada barang lancar gitu loh, jadi kalau tidak ada Gas elpiji ya repot juga, mau pakai kayu, luwengnya sudah pada hancur.

“Harapan saya itu urusan masyarakat kecil itu di mudahkan, dan kenapa kok dipersulit kayak gini cari gas bingung kesana kemari sampai saya ke Tanggul juga sama tidak ada Gas elpiji juga sama pada kosong. Kalau sudah Gas elpiji pada kosong, kita mau masak juga ngak bisa karena tidak ada Gas nya.”tambah Bibit.

“Tambah, Anik (26) tahun, warga Semboro lor sejak kemarin juga bingung mencari Gas elpiji kemana kemari juga belum mendapatkan elpiji. Akhirnya saya mendapatkan juga elpiji di warung dengan harga 24 ribu, tapi ngak apa-apalah yang penting persediaan di toko itu ada.

Cuman, kalau bisa saya berharap pada pihak pemerintah terkait agar Gas elpiji tersebut minimal itu ada, dan kalau bisa di tempat Kios-kios maupun Agen resmi elpiji sekalipun harganya itu bisa di stabil kayak kemarin-kemarinnya dengan harga yang normal.

Karena seperti saya ini yang sehari-harinya hanya berjualan makanan ringan seperti gorengan sempol dan minuman segar kayak jas jus. Jadi kalau Gas elpiji itu selalu ada persediaan masyarakat tidak perlu bingung-bingung mencari kesana kemari seperti saat ini Gas elpiji mengalami kelangkaan.”tambahnya Anik.

Tambah, Hudi Prihwiyanto sebagai Kepala Desa Sidomekar, Kami menghimbau kepada warga masyarakat dengan langkah nya elpiji itu sejak bulan kemarin, yaitu pas saat bulan puasa.

Ya kami menghimbau untuk seluruh warga masyarakat kami yang menggunakan elpiji, kalau bener-bener langka bahkan jalan arternatif yang lain ada yang menggunakan luweng atau dapur yang dulu menggunakan bahan bakar kayu. Insyaallah Minggu-Minggu kemarin ini mulai ada pengiriman elpiji terbatas, namun jatah satu pun menggunakan foto copy KT, jadi untuk warga sekali lagi saya himbau janga terlalu bingung terkait kelangkaan Gas elpiji.

Insyaallah untuk Gus Bupati sudah mengupayakan, dan insyaallah akan normal kembali di pertengahan bulan ini atau akhir bulan April ini. Jadi mohon untuk warga menggunakan dapur, dan menggunakan kayu bakar lagi.

Pemerintah Jember sudah berupaya, dan terkait harga Gas elpiji itu memang ada harga Gas elpiji bervariasi.”pungkas Hudi.

(Indra)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *