PURWOREJO, RADARRECLASSERING.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinpusip) Kabupaten Purworejo menggelar seminar literasi bertajuk “Menuju Ingatan Kolektif Nasional: Babad Kedhung Kebo — Perang Jawa dalam Sudut Pandang Liyan”, Kamis (20/8/2026), bertempat di Pendhopo Kutoarjo. Kegiatan ini mengajak masyarakat memahami sejarah Perang Jawa dari perspektif yang belum banyak terungkap dalam catatan sejarah umum.
Seminar dibuka resmi oleh Kepala Dinpusip Kabupaten Purworejo, Stefanus Aan Nugroho, S.Stp., M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pentingnya melestarikan dan menelusuri sumber-sumber sejarah lokal sebagai bagian dari membangun ingatan kolektif bangsa yang utuh. “Babad Kedhung Kebo bukan sekadar naskah kuno, melainkan cermin bagaimana peristiwa besar seperti Perang Jawa dilihat dari sudut pandang masyarakat setempat — yang sering kali tidak tertulis dalam buku-buku sejarah resmi,” ujarnya.
Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten. Secara daring hadir Prof. Dr. Peter B.R. Carey, pakar sejarah Perang Jawa yang telah lama mendalami wilayah Kedu dan sekitarnya. Dua narasumber lainnya hadir langsung di lokasi, yaitu Dr. Aditia Gunawan, M.A. dan Dr. Sudibyo Prawiroatmodjo, M.Hum. Ketiga pembicara saling melengkapi kajian mengenai isi, nilai, serta keunikan Babad Kedhung Kebo sebagai sumber sejarah alternatif Perang Jawa.
Para narasumber menguraikan bahwa Babad Kedhung Kebo menyajikan sudut pandang “liyan” — berbeda dengan catatan sejarah yang umumnya ditulis dari sisi kekuasaan atau penjajah. Naskah ini menyuarakan pengalaman dan pandangan masyarakat yang hidup di wilayah-wilayah yang terdampak langsung konflik, sehingga melengkapi pemahaman kita tentang Perang Jawa secara lebih menyeluruh.
Seminar berlangsung hangat dengan sesi diskusi interaktif, di mana peserta yang hadir menggali lebih dalam mengenai isi naskah, nilai-nilai yang terkandung, serta upaya pelestariannya. Kegiatan ini diharapkan dapat membuka wawasan masyarakat luas bahwa sejarah itu kaya perspektif, dan ingatan kolektif bangsa akan semakin utuh jika kita juga memperhatikan suara-suara dari sumber sejarah lokal.
(SBE)








