Purwokerto, Radarreclasseering.com – Dikenal sebagai salah satu kota pelajar yang menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Selasa(9/6/2026).
Kehadiran berbagai perguruan tinggi membuat kota ini dihuni oleh mahasiswa dengan latar belakang budaya yang beragam.
Pertemuan budaya tersebut menghadirkan pengalaman komunikasi lintas budaya yang menarik, terutama bagi mahasiswa rantau yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Bagi sebagian mahasiswa yang berasal dari kota-kota besar, kehidupan di Purwokerto menawarkan suasana yang berbeda.
Ritme kehidupan yang lebih santai, biaya hidup yang relatif terjangkau, serta kondisi kota yang tidak terlalu padat sering kali menimbulkan kesan tersendiri.
Perbedaan inilah yang kerap memunculkan culture shock atau gegar budaya pada masa awal perantauan.
Salah satu mahasiswa rantau, Syaltsa Nadya Aryanti, mahasiswa D3 Bahasa Mandarin asal Karawang, mengaku cukup terkejut saat pertama kali tinggal di Purwokerto.
Menurutnya, hal yang paling mencolok adalah biaya hidup yang jauh lebih murah dibandingkan daerah asalnya.
“Saya kaget sekaligus senang karena banyak makanan dan minuman yang murah.
Waktu pertama beli es teh, harganya hanya Rp2.500. Bahkan ada nasi dan lauk yang harganya sekitar Rp8.000,”ujarnya.
Selain biaya hidup, Syaltsa juga melihat adanya perbedaan fasilitas perkotaan.
Jika di Karawang terdapat beberapa pusat perbelanjaan besar, Purwokerto hanya memiliki satu mal utama yang juga menjadi tujuan masyarakat dari daerah sekitar seperti Cilacap, Kebumen, dan Wonosobo.
Meski demikian, berbagai perbedaan tersebut justru membuatnya semakin mengenal karakter kehidupan masyarakat Purwokerto.
ia menilai bahwa budaya hidup masyarakat di kota ini memang lebih santai dibandingkan kota-kota besar.
“Bagi saya, Purwokerto memang cocok disebut kota dengan budaya slow living.
Suasananya tenang, pemandangannya bagus karena berada di sekitar kaki Gunung Slamet, dan jarang macet seperti Jakarta.
Kalau sedang stres, saya bisa pergi ke Baturraden untuk menikmati suasana alam,”katanya.
Budaya slow living yang dirasakan mahasiswa rantau juga tampak dari kehidupan sehari-hari masyarakat dan mahasiswa di Purwokerto.
Aktivitas berjalan dengan ritme yang tidak terlalu terburu-buru, sementara tempat-tempat umum cenderung lebih nyaman dan tidak terlalu padat.
Pada awalnya, kondisi tersebut sempat membuat Syaltsa merasa bingung karena terbiasa dengan kehidupan yang lebih cepat di daerah asalnya.
Namun seiring berjalannya waktu,
ia mulai menikmati suasana yang lebih tenang.
“Awalnya saya merasa aneh karena terbiasa dengan suasana yang ramai dan cepat.
Tetapi lama-kelamaan saya justru menikmati ritme hidup di Purwokerto karena membuat saya lebih tenang dan tidak mudah stres,”ungkapnya.
Selain perbedaan ritme kehidupan, pengalaman komunikasi lintas budaya juga dirasakan dalam interaksi sehari-hari.
Menurut Syaltsa, masyarakat Purwokerto cenderung berbicara dengan lebih halus dan ramah.
Namun, ia mengaku sempat mengalami kesalahpahaman ketika mendengar logat ngapak yang belum familiar baginya.
“Pernah saya mengira seseorang sedang marah karena cara bicaranya terdengar tegas.
Ternyata memang seperti itu logat mereka sehari-hari,”tuturnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perbedaan budaya tidak selalu menjadi hambatan.
Sebaliknya, perbedaan tersebut justru menjadi proses pembelajaran bagi mahasiswa rantau untuk memahami cara berkomunikasi dan berinteraksi dalam lingkungan yang baru.
Menurut Syaltsa, lingkungan kampus juga memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa rantau beradaptasi.
Berbagai organisasi, komunitas, dan kegiatan kemahasiswaan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk membangun relasi dan mengenal budaya baru.
Setelah dua tahun tinggal di Purwokerto,
ia mengaku banyak belajar dari kehidupan masyarakat setempat.
Salah satu pelajaran yang paling berkesan adalah bagaimana menjalani hidup dengan lebih sederhana dan tidak selalu terburu-buru.
“Selama tinggal di Purwokerto, saya belajar untuk hidup lebih sederhana, lebih menghargai waktu, dan tidak selalu terburu-buru dalam melakukan sesuatu,” katanya.
Pada akhirnya, pengalaman mahasiswa rantau di Purwokerto menunjukkan bahwa komunikasi lintas budaya tidak hanya terjadi antarnegara, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari antarindividu yang berasal dari latar budaya berbeda.
Melalui proses adaptasi tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan di kampus, tetapi juga pengalaman berharga dalam memahami keberagaman budaya Indonesia.
Ketika diminta menggambarkan Purwokerto dalam tiga kata, Syaltsa menjawab dengan singkat namun bermakna: “Murah, tenang, dan ramah.
Penulis Mahasiswa Hanum Kusuma Wardhani & Salsha Azalia Sahda
(Red/One)









