PEKANBARU, 28 JUNI 2026,http://radarreclasseering.com – Himpunan Pemuda Mahasiswa Melayu (HPMM) Rokan Hilir secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap mendalam terkait eksistensi Falsafah Budaya Melayu yang kian terhimpit di tengah derasnya arus globalisasi, digitalisasi, dan pergeseran corak ekonomi. Kaum muda Rokan Hilir menyerukan gerakan kolektif untuk mengembalikan nilai-nilai adat pesisir sebagai filter utama dalam menghadapi perubahan zaman. Perubahan lanskap wilayah Rokan Hilir yang kini didominasi sektor industri dan perkebunan, ditambah dengan penetrasi gawai yang tidak terbendung, dinilai mulai mengikis nilai-nilai luhur di kalangan generasi Z dan milenial. Menanggapi fenomena tersebut, HPMM Rokan Hilir mendesak seluruh pemangku kebijakan dan tokoh adat untuk tidak tinggal diam melihat pergeseran kebudayaan ini.
Transformasi Budaya, Bukan Mengeliminasi Tradisi.
Ketua Umum HPMM Rokan Hilir, Muhammad Bakri, menyatakan bahwa kemajuan teknologi dan modernisasi di Negeri Seribu Kubah tidak boleh sampai menenggelamkan identitas asli daerah. Menurutnya, falsafah Melayu bersifat dinamis dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa harus kehilangan akarnya.
“Kita tidak boleh anti-kemajuan, namun kita juga tidak boleh menjadi penonton yang kehilangan identitas di tanah sendiri. Falsafah ‘Adat Bersendikan Syarak, Syarak Bersendikan Kitabullah’ bukan sekadar jargon pajangan di baliho, melainkan kompas hidup yang harus tertanam dalam sanubari setiap intelektual muda Rokan Hilir di era digital ini,” tegas Muhammad Bakri dalam pidato resminya.
Muhammad Bakri juga menyoroti bagaimana ruang hidup masyarakat pesisir dan muara Sungai Rokan yang mulai berubah akibat industrialisasi. Hal ini berdampak langsung pada hilangnya ruang referensi alam yang selama ini menjadi sumber kearifan lokal Melayu, di mana alam tradisional dipandang sebagai “guru” kehidupan.
Tiga Poin Maklumat Kebudayaan HPMM Rokan Hilir, Dalam menyikapi krisis identitas kultural tersebut, HPMM Rokan Hilir yang dipimpin oleh Muhammad Bakri mengeluarkan tiga maklumat penting,
Pertama, Restorasi Moral Berbasis Tradisi: Mengajak seluruh pemuda Rohil menghidupkan kembali nilai Tahu Diri dan Sopan Santun untuk membentengi diri dari paparan budaya asing dan dampak buruk polarisasi di media sosial. Digitalisasi Sastra dan Khazanah Pesisir: Mendesak keterlibatan aktif mahasiswa dan akademisi muda untuk mendokumentasikan serta mendigitalisasi sastra lisan, seperti Koba, syair, dan pantun agar tetap diakses oleh generasi mendatang melalui platform modern.
Penyelamatan Ruang Hidup Kebudayaan: Meminta Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir untuk menyelaraskan pembangunan ekonomi industri dengan proteksi terhadap wilayah-wilayah adat dan ekosistem sungai yang menjadi urat nadi kebudayaan Melayu.
HPMM Rokan Hilir berkomitmen untuk terus mengawal isu kebudayaan ini melalui berbagai program literasi budaya di kampus-kampus dan desa-desa, guna memastikan pemuda Rokan Hilir tumbuh menjadi generasi yang berwawasan global namun tetap berkarakter lokal. *(Tim Redaksi/ES)












