Rokan Hilir, 13 Juli 2026,http://radarreclasseering.com
Sektor ekonomi kreatif di Kabupaten Rokan Hilir saat ini dinilai stagnan akibat mentalitas zona nyaman yang masih menjangkiti mayoritas generasi muda setempat. Ketergantungan yang tinggi pada sektor sumber daya alam tradisional seperti kelapa sawit, minyak bumi, dan perikanan membuat pemuda daerah enggan melirik peluang industri kreatif digital yang memiliki potensi ekonomi global. Kondisi ini memicu keprihatinan dari berbagai aktivis kepemudaan yang melihat adanya risiko besar jika ketergantungan ini terus berlanjut tanpa adanya diversifikasi ekonomi yang digerakkan oleh pemuda.
Melimpahnya komoditas kelapa sawit dan sejarah besar sektor migas di Rokan Hilir diakui menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, komoditas tersebut memberikan stabilitas keuangan instan bagi masyarakat, namun di sisi lain memicu keengganan berinovasi di kalangan anak muda. Banyak pemuda lokal yang lebih memilih jalur aman sebagai pekerja upahan atau memburu status pegawai honorer ketimbang membangun usaha mandiri berbasis kreativitas. Kondisi ini diperparah oleh tekanan sosial budaya lokal yang masih mengukur kesuksesan hidup hanya dari kepemilikan seragam kerja formal atau status kerja kantoran konvensional. Akibatnya, ekosistem industri kreatif di daerah ini seperti desain grafis, videografi, aplikasi digital, fesyen, hingga pengemasan modern kuliner lokal berjalan di tempat.
Selain masalah mentalitas, minimnya fasilitas pendukung di Rokan Hilir turut andil dalam mandeknya sektor ini. Belum tersedianya ruang bersama seperti co-working space, wadah inkubasi bisnis, serta pelatihan pemasaran digital terpadu membuat talenta lokal merasa terisolasi. Dampaknya, fenomena brain drain tidak dapat dihindarkan, di mana pemuda-pemuda kreatif berbakat asal Rokan Hilir memilih untuk hijrah dan mengembangkan potensi mereka di kota-kota besar seperti Pekanbaru, Medan, hingga Jakarta karena merasa daerah asal tidak akomodatif terhadap industri masa depan.
Untuk memutus rantai ketergantungan tersebut, diperlukan langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir serta komunitas lokal untuk segera bertindak. Pertama, pemerintah daerah perlu membangun pusat pelatihan digital dan tempat kolaborasi atau creative hub bagi pemuda di tingkat kabupaten. Kedua, para pelaku kreatif harus mulai mengemas potensi sejarah seperti Festival Bakar Tongkang dan kuliner khas Bagansiapiapi menjadi produk digital bernilai ekonomi tinggi. Ketiga, penyediaan bantuan modal usaha awal dan kemudahan regulasi khusus bagi UMKM kreatif yang diinisiasi oleh anak muda harus segera direalisasikan.
Jika perubahan pola pikir dan intervensi kebijakan tidak segera dilakukan, Rokan Hilir terancam mengalami gagap ekonomi saat cadangan sumber daya alam mulai menipis dan harga komoditas global mengalami krisis. Pemuda Rokan Hilir harus berani keluar dari zona nyaman demi keberlanjutan ekonomi daerah di masa depan.
*(Bak/ES)












