Tanpa Penghasilan Sejak Stroke, Pasangan Lanjut Usia Di Desa Tepus Wetan – Kutoarjo Berharap Bantuan Pemerintah

PURWOREJO,http://radarreclasseering.com – Sejak diserang stroke pada Januari 2026, hidup Bapak Tulus (75 tahun) dan istrinya, Bu Tukinem, warga Desa Tepus Wetan, Kecamatan Kutoarjo, berubah drastis. Dulu keduanya adalah buruh tani yang mengandalkan tenaga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun sejak kondisi kesehatan Pak Tulus menurun, roda perekonomian keluarga ini terhenti total.

Setiap hari, Bu Tukinem harus mencurahkan seluruh waktunya untuk merawat suaminya yang tidak bisa bekerja lagi. Kondisi ini membuat mereka tidak memiliki sumber pemasukan sama sekali. Satu-satunya harapan keluarga biasanya tertuju pada anak semata wayang mereka, namun keadaan menunjukkan sebaliknya.

Anak mereka yang merantau di Jakarta juga menghadapi kesulitan ekonomi yang sama. Sebagai ibu rumah tangga dengan Suami yang hanya mengandalkan pekerjaan serabutan, ia harus menanggung hidup tiga orang anaknya: satu bersekolah di tingkat SD dan dua lainnya masih berusia balita. Kondisi ini membuatnya belum mampu memberikan dukungan cukup bagi orang tuanya di kampung.

Selain beban hidup sehari-hari, biaya akomodasi pengobatan juga membebani pasangan ini. Sejak sakit, Pak Tulus sudah dua kali menjalani rawat inap di RSUD Tjitrowardodjo Purworejo, empat kali berobat Jalan di RS Dr. Sardjito Yogyakarta jdan satu kali dirawat inap di RSUP Dr. Sardjito. Meskipun keluarga besar telah memberikan bantuan seadanya, itu jauh dari cukup untuk menutupi biaya akomodasi pengobatan dan kebutuhan makan sehari-hari yang terus berjalan.

“Kami hanya bisa pasrah dan berdoa. Sudah tidak punya tenaga lagi untuk bekerja, sedangkan kebutuhan tetap ada setiap hari,” ujar Bu Tukinem dengan nada sedih.

Hingga saat ini, pasangan lanjut usia itu menyampaikan belum menerima bantuan apapun dari Pemerintah Desa Tepus Wetan. Mereka merasa seolah keberadaan dan kesulitan yang dialami tidak diperhatikan, padahal kondisi ekonomi dan kesehatan mereka tergolong sangat memprihatinkan.

Pak Tulus dan Bu Tukinem hanya bisa berharap ada perhatian dan kepedulian, baik dari pihak desa, kecamatan, hingga pemerintah kabupaten agar mendapatkan bantuan yang layak untuk menopang kebutuhan hidup dan pengobatan ke depannya.

(SBE/AS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *