Sulawesi Selatan, Bulusaraung,http://radarreclasseering.com –Cerita ini mengilustrasikan dedikasi Tim SAR Gabungan di mata seorang relawan. Salut untuk sinergi TNI, Polri, Basarnas, dan seluruh Potensi SAR yang berhati Sekuat Baja. Tulisan ini Bu Guru Dedikasikan untuk semangat gotong royong para Relawan Gabungan dan Tim SAR;
——-đź’•
​Namaku Agam. Orang-orang gemar menyematkan nama gunung di belakang punggungku, seolah-olah aku terbuat dari batu andesit dan lahar dingin. Padahal, aku hanya manusia biasa yang kebetulan lebih mengerti bahasa angin ketimbang bahasa birokrasi. Rinjani adalah rumahku, tempat aku belajar bahwa setiap pendakian adalah dialog dengan kematian. Namun, Bulusaraung di Pangkep ini berbeda. Ia bukan rumah. Ia adalah labirin pisau raksasa yang sedang marah.
Ketika aku tiba di Posko AJU, semuanya sudah di sana. Puluhan, mungkin ratusan orang. Seragam oranye Basarnas yang tak kenal lelah, loreng TNI yang gagah, cokelat Polri, hingga relawan lokal dengan sandal jepit namun bernyali macan. Mereka—para raksasa kemanusiaan itu—sudah bertaruh nyawa selama berhari-hari sebelum aku datang. Mereka sudah membelah hutan, menembus kabut, dan yang paling berat: mereka telah menemukan lokasi “titik-titik putih” itu di tebing curam.
Tugasku? Aku hanya datang untuk membantu menyempurnakan apa yang sudah mereka mulai. Namanya Tim SAR Gabungan.
​Aroma kopi Toraja yang diseduh salah satu tentara di Posko Desa Tompo Bulu pagi tadi masih tertinggal di langit-langit mulutku—pahit, bercampur dengan bau lumpur basah dan petrichor yang tajam. Hujan baru saja reda, menyisakan kabut yang menggantung rendah seperti kain kafan raksasa.
Hari ini hari ketujuh. Angka keramat. Di sinilah “hantu” itu bekerja. Dalam bahasa mereka yang berseragam, ini adalah batas waktu prosedur standar—sebuah Ultimatum Pressure yang tak kasat mata. Namun dalam bahasaku, hari ketujuh adalah titik nadir di mana harapan keluarga korban bertarung melawan kekejaman medan Karst. [17]
​”Sapu Bersih,” kata Kolonel Dody dengan suara bergetar. Itu sandi operasinya. Aku menatap tebing di hadapanku. Di atas sana, teknologi manusia telah dipermalukan. Pesawat ATR 42-500 buatan Prancis-Italia itu adalah mesin canggih, burung besi yang didesain menaklukkan angkasa.
Tapi di sini, ia takluk, berlutut tak berdaya di hadapan Tower Karst—menara batu kapur purba yang tajamnya seperti pisau cukur raksasa. [1, 7] Radar tercanggih dan helikopter termahal sekalipun seolah kehilangan taringnya. [11, 13]
​”Bang Agam, cuaca mulai menutup,” teriak Tio, membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk, lalu mulai menuruni tebing dengan teknik rappelling. Bang Agam, kita butuh tambahan jalur anchor di Sektor 2,” ujar seorang rescuer Basarnas. Aku mengangguk hormat. Di sini, aku bukan pemimpin. Aku adalah pelayan misi.
Suara gesekan tali kermantle pada descender mendesing—zzzt, zzzt—satu-satunya musik di kesunyian ini. Batu-batu karst di sini tajamnya bukan main, siap mengiris tali—nyawaku—kapan saja jika aku lengah. [6, 9]
​Lima puluh meter ke bawah, mataku menyapu celah sempit. Di sana, tersangkut di antara dahan pohon yang patah dan batu runcing, aku melihatnya. Potongan ekor pesawat itu tampak seperti bangkai paus putih yang terdampar, sepi dan tragis. [1, 4]
“Paket ditemukan,” bisikku ke radio komunikasi.
​Kami menyebutnya “Paket”. Bukan karena tidak hormat. Itu adalah mekanisme pertahanan diri—sebuah eufemisme psikologis agar jiwa kami tidak remuk. Jika aku membayangkan tubuh kaku di depanku ini adalah Deden Maulana atau Florencia sang pramugari, aku akan runtuh. [1, 5, 16] Aku harus membungkus rasa kemanusiaanku seerat aku membungkus tubuh mereka ke dalam kantong jenazah oranye itu.
Bau avtur menyengat, bercampur aroma kematian yang khas. Hatiku mencelos. Di depanku adalah kantong jenazah oranye yang berisi Deden Maulana[2] atau mungkin kru pesawat yang lain. Mereka sudah “ditemukan”, tapi mereka belum “pulang”. Mereka menunggu kami—menunggu kerja sama ratusan tangan untuk mengangkat mereka dari jurang kegelapan ini.
​”Siap hauling! Tarik bersama!” teriak komandan regu di atas.
​Ini momen yang paling menguras air mata. Aku tidak menarik beban itu sendirian. Di atas sana, puluhan orang—tentara, polisi, warga kampung—menarik tali katrol secara serentak.
Satu, dua, tarik!
Satu, dua, tarik!
​Aku melihat kantong jenazah itu perlahan naik, berayun pelan melawan gravitasi. Aku hanya bertugas mengawal di sisi tebing agar kantong itu tidak terbentur batu karang tajam.
Tapi di atas sana… ah, aku bisa merasakan getaran tangan-tangan mereka yang lecet, napas mereka yang memburu, dan doa mereka yang melangit.
​Sesampainya di helispot, saat kantong terakhir—korban kesepuluh—berhasil ditarik naik oleh tangan-tangan kekar itu, aku melihat pemandangan yang meruntuhkan jiwaku.
​Tidak ada sorak sorai kesombongan. Yang ada adalah keheningan yang pecah oleh isak tangis. Andi Sultan, sang komandan operasi, memeluk anggotanya. Kolonel Dody mengusap wajahnya yang basah.[3] Mereka menangis. Bukan karena sedih, tapi karena lega. Beban ribuan ton di pundak mereka akhirnya terangkat.
​”Ewako!” Teriakan itu bergema.
​Aku melepas helm, berdiri di belakang barisan, membiarkan hujan membasuh wajahku. Aku menatap helikopter Caracal yang mulai mengangkut jenazah-jenazah itu “pulang” ke Makassar.
​Operasi ini bukan tentang Agam Rinjani. Ini tentang ratusan orang yang menolak menyerah. Ini tentang prajurit yang tidak pulang demi menjaga jenazah di tengah badai. Ini tentang warga desa yang memasak nasi bungkus untuk relawan.
​Di Puncak Bulusaraung yang dingin ini, aku belajar satu hal: Kemanusiaan tidak memiliki seragam. Ia hanya memiliki satu bahasa: “Gotong Royong”.
​Selamat jalan, kawan-kawan korban PK-THT. Kalian diantar pulang oleh tim terbaik yang pernah dimiliki negeri ini.
​#AnalisisBuGuru
#SapuBersihBulusaraung #MahasiswaKehidupan
#AgamRinjani
CATATAN GURU (MORAL VALUE)
​Sebagai pendidik, saya ingin kita semua belajar dari “Agam Rinjani” dan tim SAR lainnya. Bahwa di atas segala teknologi yang kita agungkan, ada satu teknologi Tuhan yang tak tertandingi: hati nurani dan empati. Pengetahuan tanpa kemanusiaan hanyalah mesin yang dingin.
​Bayangkan, seorang Agam Rinjani bahkan sanggup tidur tergantung di tebing yang tegak lurus, memeluk dinginnya batu karst di tengah badai, hanya agar mereka yang telah berpulang tidak sendirian di kegelapan.
Keberaniannya bukan tentang menaklukkan puncak, tapi tentang memuliakan nyawa. Mari ajarkan anak cucu kita untuk menjadi “pemberani”—bukan pemberani yang pongah untuk menaklukkan alam, melainkan pemberani yang ikhlas untuk menolong sesama di tengah ganasnya semesta.

​Yang belum mengikuti berita nya chek it out;
RINGKASAN KRONOLOGIS MISI PENYELAMATAN (TIMELINE)
​Berikut adalah rekam jejak waktu (timeline) operasi SAR PK-THT di Gunung Bulusaraung, disusun agar Sahabat paham betapa krusialnya setiap detik dalam misi ini:
​17 Januari 2026 (Hari H): Hilang Kontak
​13:17 WITA: Pesawat ATR 42-500 (PK-THT) rute Yogyakarta-Makassar kehilangan kontak radar dan komunikasi (Lost Contact) saat melakukan pendekatan (approach) ke Bandara Sultan Hasanuddin. Posisi terakhir terdeteksi di area pegunungan Maros-Pangkep.[7]
​Sore: Status DETRESFA (Fase Bahaya) diaktifkan. Tim SAR mulai bergerak ke titik koordinat terakhir.
​18 Januari 2026 (H+1): Penemuan Lokasi
​07:17 WITA: Patroli udara mendeteksi serpihan putih di lereng Gunung Bulusaraung.
​07:46 WITA: Helikopter SAR mengonfirmasi visual puing-puing pesawat di ketinggian 1.353 mdpl. Tim darat mulai merintis jalur menembus hutan dan tebing karst.[9, 10]
​20 Januari 2026 (H+3): Temuan Black Box
​Tim SAR berhasil mengidentifikasi secara visual lokasi Black Box (CVR dan FDR) yang masih terpasang pada bagian ekor pesawat di tebing curam. Cuaca buruk menghambat pengambilan.[11]
​21 Januari 2026 (H+4): Evakuasi Awal
​11:00 WITA: Tim SAR gabungan berhasil mengambil Black Box dan mengevakuasi 3 korban pertama (termasuk Pramugari Florencia Lolita dan Deden Maulana dari KKP).[12, 13]
​22 Januari 2026 (H+5): Kedatangan Ahli & Temuan Besar
​Relawan ahli Agam Rinjani bergabung di Pos 9 untuk memimpin operasi vertical rescue di medan 90 derajat.[14, 15]
​Ditemukan 6 “paket” jenazah tambahan yang tersebar dalam radius 50 meter di lereng terjal, sekitar 200 meter di bawah puncak.[10]
​23 Januari 2026 (H+6 – Akhir): Misi ‘Sapu Bersih’
​09:16 WITA: Korban terakhir (ke-10) berhasil ditemukan dan dievakuasi.[16]
​Siang: Seluruh jenazah diterbangkan ke RS Bhayangkara. Operasi SAR resmi dinyatakan selesai dan ditutup dengan suasana haru biru di posko utama.[17, 18]
Penulis : Bu Guru ~ Nora Margaret
Sumber : Catatan Bu Guru – Facebook, Untuk radarreclasseering.com
Gambar : Illustrasi, Agam Rinjani, Peta Sebaran Puing Pesawat ATR
(SB)





