LABUHANBATU UTARA, Radarreclasseering.com – Isu miring yang menyebutkan aksi nekat seorang ibu berinisial E (Evi Br Damanik) memviralkan barak narkoba di Lingkungan II Kampung Baru, Kelurahan Aek Kanopan Timur, karena faktor “persaingan bisnis haram” dibantah keras oleh pihak keluarga dan warga setempat. Fakta mengejutkan justru terungkap di balik keberanian emak-emak tersebut(27 Juni 2026).
Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun dari pihak keluarga melalui pesan singkat, narasi yang menyudutkan Ibu Evi sebagai bagian dari persaingan bisnis adalah hoaks dan fitnah yang keji.
Tudingan bahwa keterlibatan anak Ibu Evi yang berinisial N (Noval) dalam jaringan narkoba sebagai pemicu persaingan bisnis langsung dipatahkan. Jauh sebelum Noval ditangkap, Ibu Evi justru yang dengan sukarela dan berlinang air mata melaporkan anak kandungnya sendiri ke Polsek Kualuh Hulu.
“Tidak ada persaingan bisnis di sini, Bang. Jauh sebelum Noval ditangkap, ibu kandungnya itu sudah melaporkan Noval ke Polsek Kualuh Hulu. Bukan cuma 1 kali, tapi sudah 2 kali,” ungkap seorang narasumber yang dekat dengan keluarga.
Langkah ekstrem ini terpaksa diambil Ibu Evi karena rasa benci dan khawatirnya yang mendalam terhadap masa depan anaknya yang mulai dirusak oleh barang haram tersebut.
Ibu Evi sehari-hari dikenal sebagai pekerja keras yang membanting tulang berdagang di Pajak (Pasar) Aek Kanopan demi menghidupi anak-anaknya secara halal . Sebagai seorang ibu yang memiliki 4 anak laki-laki, ia merasa terpukul karena salah satu anaknya sudah menjadi korban kebiadaban peredaran narkoba di wilayah tersebut.
Aksi nekatnya merekam langsung barak milik pria berinisial U (Uki)—yang ironisnya masih keponakannya sendiri—adalah puncak kemarahan seorang ibu. Lokasi barak sabu tersebut berada di tengah pemukiman padat penduduk dan sangat dekat dengan anak-anak kecil.
”Ibu Evi takut, sudah satu anaknya yang jadi korban, jangan sampai anak-anaknya yang lain atau anak tetangga ikut menjadi korban lagi,” tambah sumber tersebut
Kondisi peredaran narkoba di wilayah tersebut dinilai sudah sangat darurat dan terang-terangan. Bahkan, muncul sindiran miris di tengah masyarakat yang menyatakan bahwa di lingkungan tersebut, “lebih gampang cari sabu daripada cari gas.
Aktivitas haram yang beroperasi 24 jam penuh ini ironisnya berada di lokasi yang sangat dekat, bahkan disebut berada di seberang Polsek, namun selama ini terkesan tidak tersentuh hukum sebelum video Ibu Evi viral di media sosial.
Masyarakat menyayangkan adanya oknum-oknum yang mencoba menggeser isu darurat narkoba ini menjadi narasi persaingan bisnis guna melindungi para bandar besar. Perjuangan seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya demi membersihkan kampungnya dari narkoba seharusnya didukung penuh, bukan malah disudutkan dengan berita miring.
Aparat penegak hukum, khususnya Satres Narkoba Polres Labuhanbatu dan Polsek Kualuh Hulu, yang kini telah membongkar dan membakar barak tersebut, didorong untuk terus mengejar U (Uki) selaku bandar utama dan membersihkan jaringan narkoba di Labura hingga ke akar-akarnya tanpa pandang bulu.
S/Tim.








