ROKAN HILIR, RADARRECLASSEERING.com — Sejumlah siswa-siswi SMA Negeri 1 Kubu Babussalam melakukan kunjungan untuk menggali pengetahuan tentang silat sebagai bagian dari budaya Melayu. Dalam kunjungan tersebut, para siswa berdialog dengan Kepala Suku Melayu Hambaraja Kenegerian Kubu, KH. H. Widiarto, serta Panglima Suku Bebas, M. Sayuti.
Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk mengenal lebih dekat keberadaan silat dalam kehidupan masyarakat Melayu, termasuk nilai-nilai adat dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam budaya Melayu, silat tidak hanya dikenal sebagai seni bela diri, tetapi juga memiliki nilai pendidikan karakter, kedisiplinan, penghormatan kepada orang lain, serta tanggung jawab dalam menjaga kehormatan diri dan masyarakat.
Melalui dialog tersebut, para siswa diharapkan dapat memahami bahwa silat merupakan salah satu warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Kepala Suku Melayu Hambaraja Kenegerian Kubu, KH. H. Widiarto, bersama Panglima Suku Bebas, M. Sayuti, menjadi narasumber bagi para pelajar dalam upaya memperluas wawasan mengenai silat dan kaitannya dengan adat Melayu.
H Widiarto menjelaskan fungsi silat dalam budaya Melayu, Fungsi silat Melayu mencakup bela diri, pendidikan karakter, pelestarian budaya, penghormatan dalam upacara adat, serta penguatan persaudaraan masyarakat. Dalam kehidupan adat Melayu, silat bukan hanya memperlihatkan keindahan gerak dan ketangkasan, melainkan juga menyampaikan pesan tentang keberanian, kesopanan, tanggung jawab, dan kehormatan.
Khusus dalam adat Kenegerian Kubu, silat Melayu dapat menjadi salah satu bentuk persembahan budaya untuk memperkenalkan dan melestarikan warisan Melayu kepada generasi penerus. Saya bangga seusia adek adek mau mempelajari budaya melayu mau Namun, tata cara dan makna khususnya sebaiknya mengikuti ketentuan adat serta kesepakatan pemangku adat setempat.jelasnya
M. Sayuti juga menambahkan, Silat Melayu sangat berpadu erat dengan nilai-nilai ketauhidan, kerohanian Islam, serta adab dan budi pekerti
“Silat bukan untuk mencari lawan, tetapi untuk mengenal kemampuan diri. Bukan untuk menunjukkan kehebatan, tetapi untuk menjaga kehormatan. Bukan untuk menebar permusuhan, tetapi untuk menegakkan keberanian yang berlandaskan adab dan budi pekerti.”
Orang yang pandai bersilat hendaknya semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Sebab, kekuatan tanpa adab dapat membawa kerusakan, sedangkan keberanian yang disertai kebijaksanaan akan membawa kehormatan
Kegiatan seperti ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara dunia pendidikan dan tokoh adat, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Melayu yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Melestarikan silat berarti menjaga warisan leluhur. Mengenalkan adat kepada generasi muda merupakan langkah penting agar nilai-nilai budaya Melayu tetap hidup dan diwariskan kepada anak cucu di masa mendatang. (Syt)












