Purworejo,http://radarreclasseering.com – Paguyuban Paseban Risang Aji kembali menggelar acara bertajuk silaturahmi yang dikemas dengan pameran dan bursa keris. Kegiatan budaya ini berlangsung di Gedung PLUT, Borokulon, Purworejo, pada Sabtu (04/04/2026) mulai pukul 10.00 WIB.

Acara ini menjadi magnet bagi para kolektor, budayawan, dan pecinta keris dari berbagai daerah. Ratusan koleksi keris Nusantara dengan berbagai corak pamor dan dapur ditampilkan dalam pameran, menjadi bukti kekayaan budaya leluhur yang masih terjaga hingga kini. Selain sebagai sarana edukasi dan apresiasi seni, kegiatan ini juga menghadirkan bursa keris yang memfasilitasi pertemuan antar kolektor untuk bertransaksi maupun bertukar pikiran.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Paguyuban Paseban Risang Aji, Bapak Wagino Dwijo Hadinegoro, menyampaikan sambutan dan rasa terima kasih atas antusiasme masyarakat. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang pertemuan biasa, melainkan upaya nyata untuk melestarikan warisan budaya bangsa.
“Keris adalah identitas dan jati diri kita. Melalui silaturahmi dan pameran ini, kami berharap nilai filosofis dan sejarah keris dapat terus dikenal oleh generasi muda,” ujar Bpk Wagino Dwijo Hadinegoro .
Sementara itu, Kepala PLUT, Bapak Hari Sukoco, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian budaya yang dilakukan oleh paguyuban, serta berharap Gedung PLUT dapat terus menjadi wadah produktif bagi kegiatan positif.
Hadir pula memberikan sambutan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Bapak Yudi Agung. Dalam arahannya, ia mengapresiasi peran Paguyuban Paseban Risang Aji yang telah berkontribusi aktif dalam memajukan dan melestarikan budaya daerah, sejalan dengan visi misi pemerintah daerah.
Suasana acara berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Pengunjung tampak antusias mengamati setiap koleksi yang dipajang, sambil berdiskusi mengenai keunikan dan nilai historis masing-masing keris. Kegiatan ini diharapkan dapat semakin menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap budaya asli Indonesia.
(SBE)













