Kapten Mulyono: Pahlawan Intelijen Kalimantan yang Terlupakan Kini Diangkat Kembali

SERUYAN, Kalimantan Tengah,http://radarreclasseering.com – Di tengah hiruk pikuk peringatan kemerdekaan dilanjut Hari Pahlawan, nama Kapten Mulyono, atau Moeljono Nasution, mungkin asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, di pedalaman Kalimantan, khususnya di Seruyan, namanya adalah simbol perjuangan dan kecerdikan.

Lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 11 November 1921, Mulyono adalah seorang pejuang revolusi yang memilih jalan sunyi: intelijen dan gerilya. Setelah bertempur di Jawa, ia menerima tawaran dari tokoh intelijen Zulkifli Lubis untuk menyebarkan semangat kemerdekaan di Kalimantan pada tahun 1946.

Dengan logistik minim, Mulyono dan timnya menyusup melalui Kuala Pembuang, membangun jaringan dengan komunitas Dayak dan Banjar. Mereka mendirikan pusat pelatihan gerilya di Tumbang Manjul dengan kode “M.N. 1001,” yang berarti “1001 akal”—sebuah kode yang mencerminkan betapa liciknya operasi yang mereka hadapi.

“Mulyono adalah sosok yang berani menantang kekuatan Belanda dalam kondisi yang sangat sulit. Ia tidak hanya mengandalkan baku tembak, tetapi juga kecerdikan dan kemampuan merekrut serta menggalang dukungan dari masyarakat lokal,” ujar sejarawan lokal, Ahmad Yani.

Operasi Mulyono tidak luput dari perhatian Belanda. Korps NICA terus memburu dan melacaknya. Namun, Mulyono memilih bertahan, terus memetakan wilayah pedalaman dan menyuntikkan semangat pro-Republik ke penduduk lokal.

Sayangnya, pada 23 September 1948, Mulyono berhasil ditangkap di Sambas. Penangkapan ini menjadi pukulan besar bagi operasi intelijen di Kalimantan. Meski demikian, semangat perjuangannya tidak pernah padam.

Ironisnya, nama Kapten Mulyono nyaris tenggelam dalam sejarah nasional. Minimnya kajian akademis dan dokumentasi yang terbatas menjadi penyebabnya. Namun, masyarakat Seruyan tidak tinggal diam.

Pemerintah Kabupaten Seruyan berinisiatif membuat buku sejarah perjuangan Mulyono. Lebih dari itu, Bandara Kuala Pembuang kini resmi berganti nama menjadi Bandara Kapten Mulyono.

“Ini adalah langkah kecil namun sangat penting. Kami ingin generasi muda mengenal siapa pahlawan dari daerah mereka,” kata Bupati Seruyan, Yulhaidir.

Namun, revitalisasi sejarah Mulyono tidak boleh berhenti di sini. Sejarawan Indonesia didorong untuk lebih giat mengangkat kisah Mulyono, mengkaji arsip lama Belanda, dokumen militer RI, dan kesaksian lokal. Pemerintah Daerah & Nasional perlu mendorong pengakuan yang lebih formal, seperti monumen, museum, dan pengajaran di sekolah.

“Kapten Mulyono adalah contoh pahlawan yang kompleks: ahli taktik intelijen, jalinan jaringan lokal, dan gerilyawan bayangan. Ia memilih medan bahaya pedalaman Kalimantan, memimpin pasukan MN 1001, merekrut lokal, dan melawan Belanda dengan strategi cerdik dan hati baja,” tegas Ahmad Yani.

Kisah Kapten Mulyono adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan di seluruh pelosok negeri, oleh para pahlawan yang namanya mungkin tidak setenar Soekarno atau Hatta, tetapi semangatnya sama membara.

(Reposting oleh radarreclasseering.com/Setia)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *