Purwokerto, Radarreclasseering.com – dikenal sebagai salah satu kota pendidikan di Jawa Tengah yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Sabtu, (6/6/2026).
Keberadaan perguruan tinggi seperti Universitas Jenderal Soedirman dan UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menjadikan kota ini sebagai ruang pertemuan berbagai budaya, bahasa, dan kebiasaan sosial.
Salah satu ciri khas budaya lokal Purwokerto adalah penggunaan dialek Banyumasan atau yang lebih dikenal dengan bahasa Ngapak.
Bagi mahasiswa pendatang yang bukan penutur bahasa Ngapak, interaksi sosial di lingkungan kampus maupun masyarakat sering kali menghadirkan pengalaman komunikasi antarbudaya.
Perbedaan bahasa, logat, serta gaya komunikasi dapat memunculkan hambatan, tetapi juga membuka peluang terjadinya adaptasi budaya dan pembelajaran sosial.
Komunikasi antarbudaya sendiri merupakan proses pertukaran pesan antara individu yang berasal dari latar belakang budaya berbeda.
Dalam konteks mahasiswa nonpenutur Ngapak di Purwokerto, komunikasi antarbudaya terlihat melalui proses penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial baru, terutama dalam memahami bahasa, humor, dan norma komunikasi masyarakat Banyumas.
Dialek Ngapak merupakan bagian dari bahasa Jawa Banyumasan yang memiliki ciri pengucapan tegas dan lugas.
Bahasa ini menjadi identitas budaya masyarakat Banyumas, termasuk Purwokerto.
Dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa lokal sering menggunakan bahasa Ngapak saat berbicara dengan teman sesama daerah.
Namun, ketika berinteraksi dengan mahasiswa pendatang, penggunaan bahasa Indonesia biasanya menjadi pilihan utama agar komunikasi tetap berjalan efektif.
Meski demikian, tidak jarang percakapan tetap diselingi istilah Ngapak yang membuat mahasiswa nonpenutur merasa asing pada awal masa perkuliahan.
Mahasiswa nonpenutur Ngapak umumnya mengalami beberapa hambatan komunikasi saat pertama kali tinggal di Purwokerto.
Hambatan tersebut meliputi perbedaan bahasa, intonasi bicara, serta pemahaman terhadap humor lokal.
Sebagian mahasiswa pendatang menganggap bahasa Ngapak terdengar unik, lucu, atau bahkan sulit dipahami.
Hambatan lain muncul ketika mahasiswa lokal menggunakan bahasa daerah secara dominan dalam kelompok pertemanan.
Kondisi ini dapat membuat mahasiswa nonpenutur merasa kurang terlibat dalam percakapan.
Meskipun menghadapi hambatan komunikasi, mahasiswa nonpenutur Ngapak umumnya mampu beradaptasi seiring berjalannya waktu.
Adaptasi dilakukan melalui interaksi sehari-hari di lingkungan kampus, organisasi, tempat kos, maupun media sosial.
Banyak mahasiswa mulai memahami kosakata dasar Ngapak seperti “enyong”, “koe”, “ora” , “mbok” dll. Bahkan, beberapa mahasiswa pendatang ikut menggunakan logat Ngapak dalam percakapan informal sebagai bentuk penyesuaian sosial.
Dalam perspektif komunikasi antarbudaya, interaksi mahasiswa nonpenutur Ngapak di Purwokerto menunjukkan adanya proses negosiasi budaya.
Mahasiswa lokal dan pendatang saling menyesuaikan gaya komunikasi agar tercipta hubungan sosial yang harmonis.
Mahasiswa lokal biasanya mulai menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan pendatang, sedangkan mahasiswa pendatang mencoba memahami istilah dan kebiasaan lokal.
Proses ini mencerminkan adanya toleransi budaya dan kemampuan adaptasi sosial dalam lingkungan multikultural.
Komunikasi antarbudaya yang berjalan baik juga dapat memperkuat solidaritas antarmahasiswa. Perbedaan bahasa tidak lagi dipandang sebagai penghalang, melainkan sebagai sarana memperluas wawasan budaya.
Lingkungan kampus akhirnya menjadi ruang pembelajaran sosial yang mendorong mahasiswa untuk lebih terbuka terhadap keberagaman.
(Red/One)









