Banyumas, Radarreclasseering.com – Ketika berbicara tentang Banyumas, salah satu hal yang paling sering di ingat masyarakat adalah tempe mendoan.Sabtu, (6/6/2026).
Makanan sederhana berbahan dasar tempe ini telah menjadi ikon kuliner yang melekat kuat dengan identitas masyarakat Banyumas.
Namun, bagi sebagian pendatang, mendoan sering kali dianggap tidak lebih dari sekadar tempe goreng yang kurang matang.
Anggapan tersebut muncul karena belum banyak orang yang memahami sejarah, proses pembuatan, dan makna budaya yang terkandung di balik kuliner khas tersebut.
Mendoan berasal dari kata “mendo” dalam bahasa Banyumasan yang berarti setengah matang atau lembek.
Berbeda dengan tempe goreng pada umumnya yang digoreng hingga kering dan renyah, mendoan hanya digoreng dalam waktu singkat sehingga menghasilkan tekstur yang lembut.
Cara memasak inilah yang kemudian menjadi ciri khas sekaligus identitas kuliner masyarakat Banyumas.
Seiring berjalannya waktu, mendoan tidak hanya menjadi makanan sehari-hari, tetapi juga menjadi simbol budaya yang dikenal luas oleh masyarakat luar daerah.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai makna mendoan bagi masyarakat Banyumas, penulis melakukan wawancara dengan Mbak Putri, karyawan Toko Sawangan No. 1 yang telah bekerja selama kurang lebih lima tahun.
Menurutnya, terdapat beberapa perbedaan mendasar antara mendoan dan tempe goreng biasa.
“Kalau tempe mendoan itu identiknya dibungkus daun pisang, jadi ada cita rasa dan aroma khas. Tempenya juga lebih tipis dibanding tempe potong biasa, lalu saat digoreng biasanya ada campuran daun bawangnya,” ujarnya.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa keunikan mendoan tidak hanya terletak pada proses penggorengannya, tetapi juga pada bahan dan teknik pembuatannya.
Penggunaan daun pisang memberikan aroma khas yang sulit ditemukan pada tempe goreng di daerah lain.
Selain itu, ukuran tempe yang lebih tipis membuat bumbu lebih meresap sehingga menghasilkan cita rasa yang berbeda.
Menariknya, menurut Mbak Putri, sebagian besar pembeli mendoan di tokonya justru berasal dari luar Banyumas.
ia memperkirakan sekitar 70 hingga 80 persen pelanggan membeli mendoan sebagai oleh-oleh khas daerah.
“Sebagian besar pembeli justru orang luar Banyumas.
Biasanya mereka beli untuk oleh-oleh setelah berkunjung ke Purwokerto atau Banyumas,”katanya
Meskipun demikian, tidak semua pendatang langsung menyukai mendoan saat pertama kali mencobanya.
Perbedaan budaya kuliner sering kali memengaruhi cara seseorang menilai suatu makanan. “Kebanyakan bilang enak.
Cuma ada beberapa yang kurang familiar karena teksturnya lembek.
Mendoan memang digoreng mendo atau setengah matang, biasanya sekitar tiga sampai lima menit,” jelas mbak putri.
Tanggapan tersebut menunjukkan bahwa tekstur lembut yang menjadi ciri khas mendoan justru menjadi hal yang paling sering mengejutkan para pendatang.
Bagi masyarakat Banyumas sendiri, mendoan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar makanan.
Kuliner ini telah menjadi identitas daerah yang selalu dicari oleh wisatawan.
“Saya asli Banyumas, dan dari dulu kalau orang main ke Banyumas atau Purwokerto pasti yang dicari salah satunya tempe mendoan.
Setahu saya juga mendoan sudah dikukuhkan sebagai salah satu budaya Banyumas beberapa tahun lalu,”tutur mbak putri.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa mendoan telah menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat Banyumas.
Ketika seseorang menyebut Banyumas, mendoan sering kali menjadi salah satu hal pertama yang muncul dalam ingatan.
Dengan kata lain, keberadaan mendoan tidak hanya merepresentasikan kekayaan kuliner daerah, tetapi juga menjadi simbol budaya yang memperkuat identitas masyarakatnya.
Di tengah perkembangan zaman, pelestarian kuliner tradisional menjadi tantangan tersendiri.
Munculnya berbagai makanan modern membuat generasi muda memiliki lebih banyak pilihan konsumsi.
Oleh karena itu, upaya menjaga eksistensi mendoan menjadi sangat penting.
Menurut Mbak Putri, generasi muda perlu terus mengenal dan melestarikan mendoan sebagai bagian dari warisan budaya daerah. “Penting sekali supaya anak-anak muda tahu kalau tempe mendoan itu sudah ada dari dulu sampai sekarang.
Selain itu, mendoan juga tidak mudah diproduksi di daerah lain karena bahan seperti daun pisang tidak selalu tersedia sebanyak di Banyumas,” ungkapnya.
Sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan pasar, Toko Sawangan No. 1 terus melakukan inovasi produk.
Selain mendoan original, kini tersedia berbagai variasi seperti mendoan rawit, mendoan bakar, dan mendoan berwarna pink.
Ukurannya pun beragam, mulai dari ukuran reguler, jumbo, hingga mendoan sepanjang satu meter.
Hampir setiap tahun kami mengeluarkan inovasi baru supaya mendoan tetap berkembang dan bisa diterima pasar anak muda,”jelasnya.
Berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lama secara utuh.
Sebaliknya, budaya dapat berkembang mengikuti perubahan zaman selama nilai-nilai dasarnya tetap dipertahankan.
Mendoan menjadi contoh bagaimana kuliner tradisional dapat tetap relevan di tengah modernisasi tanpa kehilangan identitas aslinya.
Pada akhirnya, mendoan bukan hanya sekadar tempe goreng.
Di balik kesederhanaannya tersimpan sejarah, identitas, dan nilai budaya yang telah melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Banyumas.
Memahami mendoan berarti memahami sebagian kecil dari identitas Banyumas itu sendiri.
Oleh karena itu, upaya pelestarian dan pengenalan mendoan kepada generasi muda perlu terus dilakukan agar warisan budaya ini tetap hidup dan dikenal oleh masyarakat luas.
penulis Mahasiswa Valen Indah Syaharani, Viola Ghita Naviri
(Red/One)









